…i know, saya ibu pemalas baru bawa anaknya ke dokter gigi pas udah umur segini. Jadi, kemarin siang itu kami abis bawa Alma ke dokter gigi. Dua minggu sebelumnya dapat undangan dari Helfo (semacam badan depkesnya sini), ngabarin kalau monggo Alma silakan datang ke klinik buat periksa gigi & mulut. Dan gratis. Iya, di Norwegia ini anak-anak sampai umur 18 tahun (eh apa 17 tahun ya?) dapat gratis perawatan gigi dari pemerintah. Norwegia ini benar-benar kebanyakan duit… Tapi bagusnya, duitnya dipakai buat bener-bener ngurus warganya, hehe.

Selama ini gue sering dengar cerita anak-anak yang takut ke dokter gigi lah, yang kejer-komeng-cirambay menyayat hati pas giginya mau diperiksa, yang diancam atau ‘disuap’ ortunya supaya mau ke dokter gigi… dsb dll dst. Kami pribadi pengennya pengalaman pertama Alma ke dokter gigi ini nggak bikin dia takut & bisa memenuhi rasa ingin tahunya. Meninggalkan kesan mendalam gitulah #tsaah. Yah, mengingat pengalaman gue dulu pas ke dokter gigi nggak indah-indah amat juga… Kali pertama datang, langsung buat cabut gigi. Bukan satu, tapi tiga bijik gigi seri yang udah grepes karena kebanyakan makan permen. Dan diantara tiga bersaudara, kayaknya gue yang paling bermasalah sama gigi & sering bolak-balik ke dokter gigi. Sampe sekarang masih inget deh gimana rasanya itu gigi-geligi dicabut *merinding*

Eniwei, akhirnya gue & Baim inisiatif buat bikin semacam roleplay sama Alma. Beberapa hari sebelum ke klinik gigi, kita sok-sok kaget & antusias gitu bilang “Eh, Alma dapet kartu undangan! Dari siapa yaaa?“. Trus kita kasih lihat undangannya & diceritain kalau Alma diundang sama dokter gigi buat datang ke tempatnya kerja. Nanya balik dong dia: dokter gigi itu apa? Yaudah, dijelasin kalau dokter gigi itu tante pintar yang periksa giginya Alma. Biar dia ada bayangan, kemudian kita puterin video Elmo Visits The Dentist. Sambil nonton kita jelasin, ke dokter gigi itu gampang & nggak serem kok. Mulai penasaran sekaligus excited tu. Abis ditonton berkali-kali, kemudian Alma kita ajak roleplay, main pura-puranya lagi datang ke dokter gigi. Skenarionya kayak yang di film Elmo aja: datang, disuruh duduk di ‘kursi praktek’ (sofa rumah), lampunya dinyalain (lampu meja), trus mangap, trus giginya diperiksa (kebetulan Alma punya alat mainan dokter, kita pake aja sekalian). Trus ganti-gantian: pertama mama jadi dokternya, trus Alma jadi dokternya. Abis roleplay, bolak-balik dia minta nonton Elmo lagi, trus ngajak main roleplay lagi, dan seterusnya πŸ˜›

Senin pagi-pagi buta, si bocah udah melek & heboh ngebangunin kita: “Mama, papa, ayo bangun! Ke dokter gigi, mama!“. Yaampooonn neng… ke dokter giginya masih jam sebelas ‘kaleeee πŸ˜† Sepanjang pagi udah resah bolak-balik nanya, kapan ke dokter gigi. Nggak konsen sama sarapannya. Nggak mau cuci muka & sibin karena mau buruan ke dokter gigi. Gue sempet ngebatin, apa jangan-jangan ekspektasi Alma jadi terlalu tinggi? Hihihii. Tapi yaudah lah, datang aja dulu. Pengalaman juga toh buat Alma.

Sampai di klinik, daftar, nunggu sebentar, trus dokter giginya manggil buat masuk ke ruangan. Di ruangan praktek, Alma dipersilakan duduk di kursi periksa. “Tuh bener kan, ada kursi gedenya…“, bisik gue ke Alma. Dia nyengir, lalu selonjoran di kursi & langsung mangap πŸ˜† Kemudian dokternya jelasin hari ini gigi Alma bakal diapain aja; ternyata cuma periksa biasa & sedikit dibersihin. Sambil periksa gigi, dijelaskan juga beberapa tips dasar buat jaga gigi anak-anak, cara sikat gigi, pilih sikat gigi, and so on. Lalu setiap dokternya mau ganti alat, Alma dikasih tahu giginya mau diapain. Dan kalau Alma udah OK, baru dokternya lanjut periksa.

Dokternya sempet nanya juga, berapa lama Alma disusui. Sekitar dua tahunan, gue jawab. Dokternya tersenyum, “Yes, I can see that… Her teeth looks okay, only small caries developed in her incisors, it’s quite common but you should brush it carefully in here,” kata dokternya sambil nunjukin gigi Alma. Maap sedikit OOT, tapi baru kesini-sini kelihatan efek bagusnya Alma disusui cukup. Nggak gampang sakit, nggak ngempeng dot atau botol susu, thus giginya juga sehat. Iya sih, gigi sehat itu bukan hanya karena disusui; menyusui bisa jadi dasar yang bagus untuk kesehatan gigi anak… TAPI, healthy habits lainnya seperti rajin sikat gigi, pola makan sehat (banyak makan ikan, sayur, susu, keju), nggak ngempeng susu serta strictly nggak dikasih makan permen juga turut berpengaruh. Sangat berpengaruh. Yang terakhir itu, kami strict banget: no candies allowed, only chocolate, cakes & cookies, itupun pas weekend saja, dijatah & habis makan harus segera sikat gigi. Sampai kalau Alma pulang dari acara pesta di rumah teman, goodiebag-nya gue inspeksi dulu. Ada permen, buang. Kalau ditawarin permen, gue tega bilang Alma nggak makan permen, tapi cokelat boleh. Kalau dikasih langsung, permennya buru-buru kami umpetin sebelum anaknya sadar & ganti ‘sogok’ pakai susu cokelat atau roti kayumanis πŸ˜† Soalnya gue ngeri sama pengalaman diri sendiri: pas kecil nyusu botol, ngempeng susu manis, diumpanin permen terus, giginya sukses grepes, mana dapet turunan gigi rapuh pula (meski rapi). Udah lah ampe gede langganan bolak-balik dokter gigi. Makanya gue mau nikah sama Baim, soalnya dia giginya kuat & sehat… Semoga anak-anak kami dapat gen gigi sehat-nya Baim semua deh πŸ˜†

Setelah semua selesai, dokternya ngasih jadwal periksa selanjutnya & sebelum pulang, Alma disuruh pilih ambil small treats berupa mainan-mainan kecil. Langsung milih cincin lucu & dengan bangganya dipamerin pas facetime sama eyang2nya sambil ngecopres “…Alma dapet cincin dari dokter gigi! Giginya Alma diperiksa, Alma disuruh aaaaaa mulutnya, dokternya ada lampunya gede, ada kursi gede yang bisa begini: zzzzzzzz trus turun gini deh!

πŸ˜†