Kemarin siang pas jemput Alma, gurunya Alma bilang gini ke gue:
Today Alma just told us that she has a little sister at home…”

What???

“… and she said her name is Elsa.”

Oh. OK.

“…maybe she imagined it,” lanjut gurunya, “because she wants to have a sister, hahahaa!”

… Ahahahahahakkjlebb.

Et tu, bu guru?

Tahun ini gue ‘naik-kelas’ menghadapi pertanyaan baru: KAPAN KASIH ADEK KE ALMA? Bermula sejak Maret lalu mudik ke Jakarta. Biasa lah, nggak afdol pulang kampungnya kalo nggak ditanyain yang kayak begituan. Dari mulai:
Kapan nambah?”
“Kapan ngasih adek buat Alma?”
Sampai ke,
Nundanya sukses banget, pake kontrasepsi apa? Pake pil ya? Abis gemuk terus?”
Dan,
“Kirain udah hamil lagi? Soalnya nggak kurus-kurus nih?”

Sabar, Ai. Orang sabar disayang Benedict Cumberbatch Tuhan.

Udah gue duga sih, bakal dicecar pertanyaan2 tersebut. Selain tahun ini Alma udah berusia lima tahun (usia yang banyak orang Indonesia menilai ‘sudah pantas buat punya adek’), mungkin saja mereka berharap bahwa nun jauh di kutub sana, gue bakal sibuk beranak-pinak daripada luntang-lantung jadi academic groupies. Dan nggak cuma keluarga di Indo, beberapa orang Indo sesama penghuni kutub pun ada aja yang bertanya serupa. Mungkin menurut mereka gue termasuk aneh nggak kunjung punya anak di Norway, mengingat tunjangan anak di Norway kan besarnya fantastis bombastis aduhai. Saking fantastisnya sampai bisa buat nambah2in DP cicilan rumah. Rumah Indo, tapinya. Rumah di Norway mah belom kebeli.

Anyway. Karena gue tipe orang yang cinta damai, berhati sejuk, sopan dan rajin menabung, pertanyaan2 tersebut cuma gue jawab dengan senyuman. Pernah sekali juga nggak pake dijawab, langsung balik-kanan-bubaaarr-grakkk karena pertanyaan tersebut ditanyakan di tengah2 acara resepsi adek gue, kenceng2, sambil yang nanya pake drama sendiri di tangga pelaminan pas mau salaman. Hey, it’s my brother’s wedding day… giliran dia atuh yang diteror dengan pertanyaan cepet2 punya anak? #kakakyangkejam #janganditiru #welcometotheclubbro

Karena emaknya membal tiap kali ditanyain kapan-nambah-adik, rupanya tetua2 di kelurga melancarkan strategi lain: brainwashing Alma biar minta ke gue buat punya adik. Sampai April lalu sih tidak ada tanda2 keberhasilan karena tiap ditanya “Alma mau punya adek nggak”, Alma selalu jawab, “EUUUWHHH NO!!! I don’t want a brother or sister! STINKY DIAPERS!”

*fistbump sama Alma*

Agak kagum juga sih dengan jawaban stinky diapers tersebut, kok Alma tau-taunya ya kalo gantiin popok itu menjijaykan. Sekali waktu, pernah gue iseng tanya ke Alma,
“Alma, mau punya adek gak?”

Anaknya jawab, “Kan stinky diaper, Mama!”

“Lho, tapi kan nanti Alma bisa main sama adeknya.”

“But i don’t like the stinky diaper…”

“Baby memang harus ganti popok, Alma… Alma waktu baby juga gitu. But hey, you can help me change the diaper!”

“No. How about I play with the baby, and you change the diaper?”

Laaaahhh, dia nawar 😆

Rupanya sepulangnya ke kutub abis mudik, beberap teman di sekolah Alma ada yang punya adik. Tiga orang apa yah. Ada yang adik bayinya baru masuk ke kelas daycare, ada yang masih newborn baby & suka dibawa turun bareng carseatnya tiap kali mama/papanya ngejemput sang kakak yang sekelas sama Alma. Dari yang tadinya jijay surajay kalau lihat baby, sekarang Alma yang langsung squealing aaaaw-it’s-soooo-cute gemes sendiri. Puncaknya adalah di suatu hari, dari mulut Alma terlontar ucapan, “Mama, Alma mau have a baby sister.”

JEGLERRRRR!

Iseng gue tanya balik, “A sister or a brother?

“A sister!”

“Trus kalo punya adik, Alma mau ngapain sama adiknya?”

“I want to have a te party with my sister!!!”

Masih lama kaleeee, sebelum adiknya bisa diajak main tea party 😆

Minggu lalu gurunya Alma nempelin foto salah satu murid kelas yang lagi gendong adiknya yang baru lahir. Kayaknya karena lihat foto tersebut, pertanyaan ‘Alma-mau-punya-adik-baby’ kembali gencar & puncaknya ya tadi itu, yang Alma cerita punya ‘little sister’.

Sezuzurnya pas dengar ‘little sister’, gue udah serem duluan ngebayangin Alma bersahabat dengan hantu kecil yang diakunya sebagai adik. Kayak di film2 horror gitu *amit-amiiittt*. Tapi pas dengar kalau ‘little sister’nya dinamai Elsa, gue tahu kalau itu cuma main2 aja. Pas pulang sekolah, iseng2 gue klarifikasikan ke Alma & jawabannya: “It’s just pretending, Mama. Elsa jadi little sisternya Alma, trus Anna juga!”

“Lho, katanya kan little. Elsa & Anna kan udah gede.”

“But I want a little sister…”

“Well, i wish we could buy a baby from ebay…”

“What? You can buy a baby, Mama???”

“Nooo! Of course we cannot la! I said, I wish we COULD…”

“What is ebay, Mama?”

…dan Aini langsung menyesal udah ngasih jawaban ngasal 😆 belum beres kebingungan sendiri, tiba2 Alma nyeletuk lagi,

“Mama, kok gimana punya baby?”

“Gimana apa, Alma?”

“Kok temannya Alma bisa punya baby?”

“Ya bisa. Kan mamanya yang bawa babynya di dalam perut.”

“Kok babynya bisa ada di perut mamanya?”

Sampai disini, gue rasanya pengen lelarian setres sambil tereak, “AAAA AKU BINGUNG, AKU BINGUNG LAAA LAAA LA LAAA LAAA!!!”, karena nggak cuma naik-kelas mendapat pertanyaan kapan-nambah-lagi, baru saja gue naik-kelas (lagi) mendapatkan pertanyaan dari mana asalnya baby dari anak gue sendiri. Mantap lah Ai! Selamat ye!!!

Ngajarin sex-ed ke anak-anak SMP adalah hal ter-palmface yang pernah gue jalani. Ngejelasin ke anak umur lima tahun, itu beda lagi. Akhirnya gue jawabin aja kalau babynya bisa ada dalam perut mamanya karena perut mama yang paling kuat dan paling nyaman buat bawa baby. Soalnya kalau dibawa dalam perut papa, kasian papanya nggak bakal kuat.

“I know,” celetuk Alma lagi, “Perut papa isinya makanan, hahahahaa! Papa makannya banyak!”

😆

Jadi buibu… Ada yang anaknya punya imaginary sibling juga? Beneran imaginary atau makhluk lain gitu? 😛

Btw ada juga gak, yang udah naik-kelas ditanyain pertanyaan serupa sama anak-anaknya? Trus dijawabinnya gimana?