Ih Aini, ih… Cerita dari September belum dituntasin sampai sekarang. Dari kapan mau ditulis, tapi teronggok melulu dalam bentuk draft.

Dibandingkan dengan penerbangan panjang waktu pindahan ke Tromso, penerbangan trans-atlantik menuju Amerika ini relatif lebih lancar. Ini gambaran singkat waktu kami terbang pindahan dari Jakarta ke Oslo: melibatkan jadwal penerbangan yang dimajukan dua jam, Alma dua kali projectile vomit, lalu seisi tas gue kebanjur orange juice (dua kali, sodara-sodara), sweater favorit Alma (yang mana sweater gue 25 tahun yang lalu) hilang, stroller Alma juga hilang di Changi, trus lari & empel-empelan di airport Doha jam 3 pagi ngejar connecting flight, penerbangan Doha-Oslo berisi banyak penumpang sakit (ada beberapa yang muntah di alley) & banyak turbulence kencang (another projectile vomit), ditutup oleh si bocah tantrum nangis menjerit-jerit selama penerbangan dari Oslo ke Tromso (dari pesawat take-off sampai landing lagi). Gongnya adalah dua hari kemudian si bocah & mamanya ini ambruk kena winter bug norovirus. Kali itu memang long-haul flight pertama buat Alma, pastilah dia lelah. Biar dari bayi udah berkali-kali terbang Penang-Jakarta pp, long haul flight tetaplah tantangan yang lain.

Penerbangan waktu pindahan ke ameriki? Muluuuussss lancaaarr. Yah nggak 100% mulus lancar, tapi setidaknya nggak melibatkan semburan muntah πŸ˜† Meski harus berangkat jam 5 pagi dari rumah, tapi Alma super anteng. Dari semalam sebelumnya sudah dipakein setelan sweatshirt-sweatpants & kaoskaki anget, biar pas pagi tinggal pakai jaket & diangkut ke airport gak pake angot. Mind you, anak kecil satu ini masih suka sebel kalau dingin-dingin suhu -10 disuruh pakai baju hangat. Curiga kalau jangan-jangan dia itu titisan Queen Elsa.

Pagi-pagi buta menuju airport pakai taksi, lancarrr.

Check-in bagasi & stroller, lancaaarrr.

Terbang sampai di Gardemoen Oslo, lancaaarrr.

Check-in lagi & terbang menuju Frankfurt, lancaaarrrr.

Sampai di Frankfurt, masalah pertama muncul.

Frankfurt itu kan erpotnya guede buanget yah. Diulang: GUEDE BUANGET. Kayaknya tiga bijik bandara Soekarno-Hatta dimasukin kesitu & masih ada banyak ruang yang tersisa. Baca itinerary, oh punya dua jam buat transit di Frankfurt, cincay. Ternyata jarak gate tempat kami turun menuju gate buat naik pesawat ke Newark itu jauhnya…. dari ujung ke ujung. Berkali-kali cek jam sambil ngebatin, “Tenang, tenang… Masih dua jam lagi.”

…tiga puluh menit kemudian, barulah kami sampai di gatenya. Check-in di loket, muncul masalah kedua: boarding pass kami nggak bisa di-print. Dengan muka seramah mungkin, kru loket mengatakan bahwa ada ‘sedikit masalah’ dengan tiket kami. Dan kemudian sekitar enam kru tambahan datang ke loket, ngoprek komputer, sambil bolak balik rechecking semua ID, surat pengantar tugas & semua form yang kami punya.

Sedikit masalah mulai terlihat seperti sesuatu yang lebih besar, menurut gue πŸ˜†

Beberapa hari kemudian pas kami ngobrolin tentang kejadian di Frankfurt ini, Baim punya teori kalau mungkin ini terjadi karena kami pesan tiketnya tiga hari sebelum tanggal keberangkatan. Penerbangan ke Newark, beli tiket nggak dari jauh-jauh hari, yang beli orangnya muka arab trus nama islami pula! Ke Amerika pula! Huooohh, all alarms went off!!

Ada sekitar sejam kami menunggu ‘sedikit masalah’ ini dibereskan. Untungnya ngga pake drama. Untungnya Alma juga anteng, ya selama ada roti, kue & minuman sih dia anteng. Tapi para kru-nya cekatan kok, dan alhamdulillah boarding pass berhasil diprint & diberikan ke kami disertai permintaan maaf para krunya atas ketidaknyamanan yang muncul.

Baru lima belas menit napas lega, muncul masalah ketiga: ada gangguan mekanis pada pesawat yang akan dipakai untuk ke Newark sehingga penerbangannya dialihkan ke pesawat di gate lain dan…. Letak gatenya persis di sebelah gate tempat kami turun dari flight Oslo tadi πŸ˜† Jalan kaki lagiiiiii ke ujung dunia, eh ujung airport.

Sampai di gate, ternyata masih harus menunggu dua jam lagi sebelum bisa terbang. Katanya sih gara-gara aksi mogok dari kru airport Frankfurt. Nggak ada yang banyak bisa dilakukan selain dua jam duduk nunggu naik pesawat, sambil sesekali bawa Alma jalan-jalan biar nggak bosan & mengenyangkan perutnya. Oh ya, di hari itu kami menunggu di bersama sekelompok besar anak-anak umur high school yang pulang karyawisata keliling Eropa. Sambil duduk lesehan di lantai boarding room, terdengar banyak keluhan kenapa harus menunggu dua jam, kenapa nggak kunjung naik pesawat, it sucks & they keep hissing the f-word. Yaelah dek, baru dua jam… Masih bagus lo bisa karyawisata ke yurop & pulang naik Lufthansa, bukan delay delapan jam & pulangnya naik LionAir.

Dua jam berlalu dan akhirnya… naik pesawat juga, horeee!!! Lufthansa enak, cukup nyaman dan servisnya untuk penumpang yang bawa anak balita dan baby terhitung bagus. Penumpang yang bawa anak diprioritaskan duluan masuk ke pesawat (kami masuk diiringi tatapan tajam dari para abege whiny tersebut, bhaaayyy), langsung diberi tempat duduk yang sederet (ada kesalahan nomor seat yg dicetak di boarding pass kami), a bit roomier & dekat dengan toilet changing room + dapur. Kru pesawatnya sigap membantu menyimpan tas di overhead cabin, lalu Alma langsung dikasih beberapa goodies mainan biar sibuk sendiri & nggak cranky. Lumayan… Baim & gue bisa senderan sebentar.

Delapan jam penerbangan trans-atlantik ini terbilang lancar. Kriteria ‘lancar’ menurut gue sih cukup dengan tidak disertai acara tantrum & semburan muntahan πŸ˜† Alma juga kooperatif banget, anteng, asik sendiri antara menggambar, nonton in-flight entertainment (Frozen on repeat, yaaayy!!) & tidur. Baim & gue pun sempat tidur sampai keluar pengumuman pesawat akan mendarat di Newark International Airport. Beberapa jam saja cukup bikin badan enakan.

Beberapa saat sebelum pesawat turun untuk landing, dari jendela pesawat tampak siluet gedung beratap runcing di kejauhan, bermandikan sinar matahari sore. Gue tunjuk sambil bilang ke Baim, “Itu empire state building, tu yang jauh disana… Kelihatan gak?”. Baim nyengir & bilang, “Sampai juga ya kita disini.”

Keluar dari pesawat dilepas oleh senyum ramah para kru pesawat Lufthansa, kami masuk menuju imigrasi Newark disambut oleh… Pulisi Ameriki segede gaban & anjing supergede yang diarahkan buat ngendus-ngendus semua penumpang yang lewat. Ngendus narkobu, mungkin. Tapi anjingnya itu loh… gede banget, gue curiga mungkin Amerika udah berhasil mengembangbiakkan sejenis hibrida anjing-serigala kayak direwolf di serial Game of Thrones. Polisinya bilang “Keep moving, please keep moving, ” lalu noleh ke gue, “Ma’am, please keep your child close to you, stay away from the dog…”

Gue noleh ke Alma, dia udah ngumpet di belakang gue & bisik, “Mama, anjingnya gede…” πŸ˜†

Selanjutnya, ngantri di loket imigrasi. Kami bertiga ngantri sekaligus. Paspor dicek, sidik jari & data biometrik diambil. Agak lama, paspornya diperiksa satu-satu oleh petugas imigrasi bertampang Bradley Cooper sambil menanyakan beberapa pertanyaan untuk gue & Baim. Ke Baim sih, yang lebih banyak.

Lalu paspor dicek lagi.

Lalu ditanya lagi.

Lalu dicek lagi. Ketik-ketik. Cek lagi. Lalu diliatin dari atas-ke-bawah.

Lalu petugasnya ternyata beneran Bradley Cooper *…nggak ding, ini sih kibul parah*

Sampai akhirnya si petugas imigrasi berkata, “OK Sir, please follow me. We need to ask you a few question. Your wife and daughter may wait outside.”

Meski sudah menebak ini bakal kejadian, tetap aja hati gue tetap mencelos.

Dua jam berikutnya, sementara kami menunggu di luar & Baim di ruangan interogasi (?), gue mendapati bahwa bagasi kami masih tertinggal di Frankfurt beserta bagasi seluruh penumpang pesawat lainnya, karena mogok massal kru airport Frankfurt itu. Menurut ground staff Lufthansa, koper baru akan tiba sekitar empat hari kemudian & akan diantar langsung ke rumah kami. Balik lagi ke ruang tunggu dekat ruang interogasi, seorang ibu-ibu officer yang dikawal dua officer segede gaban menghampiri gue “Mrs. Ibrahim? I was looking for you,” dan selanjutnya dia menjelaskan bahwa suami gue baik-baik saja, apparently my husband’s name is similar like one of those names in USA’s most-wanted list, tapi lagi-lagi si petugas memastikan bahwa Baim baik-baik saja, gue nggak perlu kuatir, nggak ada apa-apa yang serius namun mereka masih butuh beberapa waktu lagi untuk ‘running some data search, as a precaution’.

Meski lega selega-leganya, tapi dalam hati gue ngebatin, “Ngehek lo semua, mentang-mentang muka & nama laki gue bernuansa arabian jadi pake lo kroscekin ke semua data ef bi ay, ci ay ey, en es ey, endebra endebre… Laki gue cuma mahasiswa peneliti yang mau kunjungan ke sini. Buruan balikin laki gue, buruan!!”

Tiga puluh menit kemudian, Baim keluar dari ruangan tersebut diantar oleh si ibu-ibu officer tadi. Baim senyum lega, Alma lari ke papanya & minta digendong. Gue merasa adegan ini seperti adegan di pilem-pilem πŸ˜† Setelah ngurus klaim bagasi di loket representatif Lufthansa, kami pun ngantri taksi & langsung menuju hotel.

Sesampainya di kota New Brunswick ini kami memilih buat bermalam di hotel, nggak ngambil kunci masuk rumah. Sengaja dari jauh hari udah pesan hotel, karena udah menduga sesampainya nanti pasti bakal capek buanget. Kayaknya mending spend beberapa puluh dollar untuk bisa tidur di kasur hotel empuk & mandi air panas di bathtub daripada capek-capek bela-belain masuk rumah, beberes & tidur di lantai karena kasurnya belum ada. Lagipula saat itu sudah jam 10 malam, kantor apartemen nggak mungkin masih buka. Bersyukur banget sempat pesan kamar hotel untuk semalam.

Yang lebih menggembirakan, di sebelah hotelnya ada KEDAI PIZZA HALAL!! Huwaaaaaa… Pizza halal!! Chicken wings halal!! Jadilah setelah buka kamar & naro Alma yang udah duluan tepar di taksi, gue nyopot2in sepatu & jaket Alma sementara Baim turun lagi beli pizza, katanya buat merayakan malam ini!

Tiga puluh menit kemudian, di lantai kamar dengan sekotak chicken wings & pizza medium (large, buat kami) terbuka lebar, gue & Baim asik ngunyah makan sambil ngebahas tadi dia ditanyain apa aja pas di ruang interogasi,

“Aku cuma ditanyain nama orang tua, nama lengkap kamu, trus risetku ngapain aja…”

“Itu aja?”

“Iya, itu aja,” ulang Baim lagi, “Abis gitu ya udah, dua jam aku didiemin sambil mereka bolak-balik nelpon & ngetik apa gitu…”

“Nggak ditanyain apa-apa lagi?”

“Nggak tuh… Oh, sama aku ditanyain kapan tanggal perkawinan kita…”

“TRUS KAMU JAWAB APA? Kamu inget kan, NGGAK SALAH JAWAB?”

“Inget dong!”

“BERAPA? Tanggal berapa??”

“Udah, buruan abisin tuh pizzanya!”

πŸ˜†

Tapi secara keseluruhan sih, alhamdulillah, perjalanan ini lancar. Albeit beberapa masalah yang muncul, tapi buat kami perjalanan masuk ke ameriki ini terbilang lancar, gak pake banyak drama yang menguras emosi jiwa raga. Sepanjang perjalanan, kami banyak dibantu oleh kru petugas yang handal & baik-baik. Ya semoga berkah deh hidupnya mereka, biar bisa lebih banyak lagi membantu orang lain.