Katanya, takdir itu sudah digariskan… tapi kitalah yang mencari jalan untuk menuju & meraih takdir tersebut.

Tersebutlah beberapa tahun yang lalu, ada seorang cewek yang baru lulus SMA memutuskan untuk ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Jangan ditanya lah yaa, udah seberapa tuir itu cewek sekarang… dari dipakainya istilah UMPTN aja udah bisa dikira-kira waktu itu tahun berapa πŸ˜†

Eniwei…

Si cewek ini ikut UMPTN karena… cuma itu pilihan yang tersisa, buat dia agar bisa lanjut sekolah dengan kuliah. Dua bulan sebelumnya, si cewek dapet kabar kalau dia… nggak lulus PMDK. Untuk selanjutnya, mari kita sebut kejadian ini sebagai Derita Dunia #1. Beberapa minggu sebelum pengumuman PMDK itu, si cewek putus sama cowoknya (Derita Dunia #2). Tapi dia bersyukur juga sih putus sama itu cowok, soalnya agak-agak labil gimanaa gitu cowoknya. Selama kelas 3 SMU itu ada yang namanya bimbingan belajar pengayaan selepas jam pulang sekolah. Di bimbel itu, si cewek sekelas dengan cowok lain yang geeky tapi baik hati & rajin sholat. Keduanya sama-sama penggemar komik Meitantei Conan. Dua-duanya dulu sama-sama anak OSIS. Dua-duanya sempat sekelas. Dua-duanya bersimbiosis mutualisme: yang cowok jago matematika tapi lemah di bahasa, yang cewek jago bahasa tapi bisa lulus EBTANAS dengan nilai matematika 5-koma aja udah bersyukur. Dua-duanya saling menggebet tapi nggak ada yang pernah berani buat menyatakan rasa sukanya. Dua-duanya kemudian sama-sama daftar PMDK & bertekad untuk lulus UMPTN juga (kalau-kalau PMDK-nya nggak lolos). Tapi ternyata… si cowok keterima PMDK. Si cewek bengong & nyesek karena nggak lolos. Derita Dunia #3.
Ditambah lagi beberapa minggu sebelum UMPTN, ayah si cewek tiba-tiba sakit sampai harus dirawat di rumah sakit. Yes, Derita Dunia #4.

Si cewek ini sebelumnya pas kelas 3 SMU doyan bolos bimbel & prioritas belajarnya acak adul. Jadi pas runtunan Derita Dunia itu datang, berasalah dia kayak ditegur Tuhan atas semua kedudulan yang dia lakukan di tahun terakhir masa SMA. Apalagi dia anak sulung, ayahnya berharap banget dia bisa keterima di perguruan tinggi negeri yang di masa itu selain berkualitas, juga bayarannya nggak segila kalau kuliah di perguruan tinggi swasta. Plus, diharapkan kalau si cewek masuk PTN, itu bisa jadi ‘pembuka jalan’ & contoh buat adik-adiknya yang masih SMP. Bok, siapa bilang jadi anak sulung itu enak, bok?
Orangtua si cewek ini nggak pernah pasang ultimatum “PTN or die!”, sih. Cuma kemudian aja si cewek itu malu sendiri & pasang ultimatum buat dirinya sendiri. Saking malunya, si cewek sempat takut bilang ke orangtuanya kalau dia nggak lolos PMDK. Dengan semua kejadian tersebut, singkat kata, kalau si cewek mau lanjut kuliah pilihannya cuma mengundi nasib lewat UMPTN. Sampai sekarang pun kalau denger kata UMPTN, bagi si cewek kepanjangannya UMPTN adalah UNDIAN Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Mengenai si cowok gebetan yang keterima PMDK ini, sebelum berangkat pindah dia ngasih hadiah untuk si cewek. Hadiahnya adalah… setumpuk buku kumpulanΒ  latihan soal UMPTN. “Lo lebih butuh ini. Dipake ya…” kata si cowok. Kemudian di atas tumpukan buku latihan soal, si cowok naro’ satu komik Meitantei Conan yang barusan saja dibaca bareng si cewek & berpesan: “Gue mau nanti komik ini dibalikin pas lo lulus UMPTN ke Yogya. Gue tunggu ya.”

Si cewek kemudian jadi rajin masuk bimbel, ngereview lagi semua catatan pelajarannya, serta nggak tidur di kelas lagi saban pengayaan sepulang jam sekolah. Pokoknya jadi rajin deh. Buku kumpulan soal dari si cowok dilalap habis. No… bukan dilalap pake sambel, tapi dibaca cover-to-cover & dikerjain semua soal-soalnya. Kalau ada soal-soal yang susah dipecahkan, dia tandai pake stabilo lalu ditanyakan ke teman-teman bimbel atau guru-guru bimbelnya. Untuk mengisi waktu di dalam bus selama perjalanan pulang, si cewek kembali me-review & mengerjakan ulang set soal-soal yang diperolehnya di bimbel. Malem-malem kalau nggak bisa tidur, dia bakal buka salah satu buku kumpulan soal & dikerjakan satu-dua set, sambil ngemil makanan apapun yang bisa ditemukan di dalam kulkas (termasuk sisa masakan makan malam superlejaat buatan ibunya, kalau masih tersisa & belum digasak oleh adik-adiknya si cewek). Orangtuanya sampai heran, kok tiba-tiba si cewek jadi rajin begini? Tapi mereka nggak pernah mempertanyakan, instead membiarkan saja karena mungkin ini pelajaran yang harus si cewek hadapi & selesaikan sendiri. Tapi nggak 100% membiarkan sih, karena ayahnya si cewek juga terus coaching & menyediakan dirinya 24 jam nonstop buat ditanya ini-itu. Bahkan ketika si Ayah dirawat di rumah sakit & harus bedrest, disuruhnya itu anak cewek semata wayang buat duduk, diskusi & ngerjain latihan soal bahasa Inggris & Kimia.

UMPTN semakin dekat, masuk dalam hitungan hari. Kabar gembira pun datang: ayah si cewek sembuh & sudah bisa pulang ke rumah. Dua hari sebelum UMPTN, ayah si cewek mengajak untuk survei gedung tempat nanti ujian UMPTN dilaksanakan. Semalam sebelum UMPTN, kesembuhan si ayah dirayakan dengan makan-makan & karaoke. Si cewek pun memutuskan buat santai-santai aja. Toh tiga bulan sebelumnya dia sudah cukup jungkir-balik belajar. Malamnya sebelum tidur, si cowok gebetan nelpon & ngucapin semoga berhasil untuk ujian besok. Begitu pula sahabatnya yang sudah keterima duluan di Bogor, nelepon buat ngucapin selamat berjuang. Malam itu si cewek bahagia banget, merasakan banyak blessings, semangat & doa dari orang-orang yang dia sayangi.

Pagi harinya saat UMPTN, si cewek diantar ke gedung ujian oleh ibu & ayahnya (yang masih lemes karena belum boleh banyak-banyak beraktivitas). Ibunya khusus bikin bekal makanan biar si cewek nggak perlu jajan snack ina-itu yang ditakutkan bisa bikin perutnya murus-murus. Bersenjatakan enam pensil 2B, rautan & penghapus yang diklaim smudgeproof, anti serbuk & paling bersih (diantara peserta UMPTN diperlakukan layaknya jimat), soal-soal UMPTN berhasil dikerjakan oleh si cewek. Semua bulatan dihitamkan dengan rapi, semua tulisan yang ditulis dengan pensil tidak meninggalkan bekas cemong hitam-hitam, sampai… si cewek menyadari kalau dia salah mengisi data kelahirannya. Bersamaan dengan pengawas ujian mengumumkan waktu ujian tinggal tiga menit lagi.

SUMPAH PANIK ABIS!

Dengan tangan gemetaran sambil berkali-kali inhale-exhale, si cewek menghapus bersih-bersih & menulis ulang data tersebut. Sampai saat pulang ke rumah, si cewek masih merinding tiap membayangkan kalau misalnya data yang salah itu tidak buru-buru diganti. Pun sampai sebulan kemudian saat si cewek baca koran Republika yang memuat pengumumam kelulusan UMPTN & menemukan namanya tercetak disitu, lalu dipeluk erat-erat oleh orangtuanya, melihat ayahnya menangis untuk kali pertamanya dalam seumur hidup si cewek, dan saat menerima telepon dari sahabat & cowok gebetannya mengabari kalau dia lulus UMPTN… dia masih merinding membayangkan kalau misalnya data seremeh itu lupa dia ganti & perbaiki.

By the way, si cewek tidak diterima di kampus Yogya. Di hari yang sama saat si cewek lulus UMPTN & si cowok gebetan menelpon bertanya apakah dia diterima di Yogya, si cewek cuma menggumam pelan menjawab dia diterima kuliah di Bogor. Sepertinya gumaman tersebut terdengar cukup jelas di telinga si cowok. Meski ada nada kecewa dalam suaranya, si cowok tetap menyelamati kelulusan si cewek & berkata bahwa mereka masih bisa saling surat-suratan & sms. Kemudian setelah kuliah memang mereka masih beberapa kali kontak-kontakan. Tapi karena waktu, jarak, padatnya jadwal lab-hopping untuk praktikum & beberapa cowok yang ditemui si cewek semasa kuliah (college is so much fun!), cinta platonis sedari SMU itu terlupakan di sudut ruangan memori… begitu pula komik yang si cowok kasih sebelum pindah ke Yogya.

Tiga tahun kemudian, si cewek dipilih untuk ikut serta dalam acara studi banding ke Yogya. Iseng-iseng, dismsnya si cowok gebetan jaman dahulu kala semasa SMA; sekedar untuk mengabari “Eh minggu depan gue mau ke Yogya nih! Sibuk gak?”. Si cewek berharap, tapi tidak berharap banyak untuk bisa bertemu dengan si cowok. Komik yang diberi oleh si cowok dia turut bawa ke Yogya. Meskipun pada akhirnya, komik itu tidak pernah kembali lagi ke pemiliknya. Si cowok tidak menampakkan diri di tempat mereka janjian, dimana si cewek menunggu untuk bertemu, tidak hanya untuk sekedar mengembalikan buku komiknya. Tapi si cewek paham. Mungkin, ada beberapa hal di masa lalu yang memang sebaiknya tetap menjadi masa lalu… karena Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk masa depan. Seperti… beberapa jam kemudian saat si cewek terpisah dari rombongan studi banding, ternyata ada seorang cowok se-fakultas di Bogor & anggota studi banding dari jurusan Ilmu Komputer yang juga terpisah. Si cewek kenal dengan cowok komputer ini & sebenarnya… sedikit ‘lebih’ dari sekedar ‘mengenali’ πŸ˜‰ Setelah mencari-cari & tidak bisa menemukan rombongan, mereka memutuskan untuk menyusuri Malioboro & kembali ke tempat bus rombongan studi banding diparkir. Percakapan mereka selama menyusuri Malioboro disambung lagi setibanya mereka di Bogor… sampai setahun kemudian… tiga tahun kemudian… berlanjut lewat Yahoo! Messenger saat si cowok komputer melanjutkan kuliahnya ke negeri jiran… sampai di bulan Agustus 2008 mereka menikah & pindah ke sebuah kota bernama Penang πŸ™‚

Dari kisah di atas, tidak berlebihan rasanya kalau gue menyatakan: keluarga pilihan tempat & jurusan kuliah itu somehow menentukan jalan menuju takdirmu!! Ya takdir jodoh, takdir rejeki, dan lain sebagainya. Jadi adek-adek yang hari ini SMPTN… pilih baik-baik tempat & jurusan kuliahnya. You pursue your own destiny. Go soar ! Tapiii… misalnya sudah berusaha sekuat tenaga daya upaya sampai tetes darah penghabisan ternyata keterima di jurusan lain, atau malah lulus di ujian yang lain, coba pikirkan ini: selalu ada rencana baik yang Tuhan sudah siapkan.Β  Tinggal pilih, mau lihat atau nggak πŸ˜‰