Before we hit anything off, gue cuma mo memastikan kalo tulisan tentang cokelat ini dibuat bukan karena menjelang hari Valentine (soalnya cokelat identik sebagai salahsatu kado valentine 😛 ). Tulisan ini dibuat sebagai bukti cinta gue terhadap cokelat, dan keberatan gue akan kebiasaan beberapa orang yang cenderung menikmati cokelat dengan gaya-makan-kue-getuk : caplok, gigit, kunyah-kunyah, telen. Trus caplok lagi. Ampe cokelatnya ludes sekejap. Weleh-weleh.

chocolate1Cokelat, baik dalam bentuk potongan balok cokelat, permen m&m’s, brownies, cake, hot-creamy-cocoa, es krim, muisjes… atau apapun itu, selalu punya rasa yang khas. Khas apa, ya khasnya rasa cokelat 😀 Susah untuk didefinisikan. Bagi gue, teteeeup… cokelat ini adalah makanan ter-maut yang rasanya “surga-banget”, mwahahahahahahaaa..! 😀 Namanya juga makanan bercitarasa “surga-banget” alias uenak-banget, pastinya ada pakem-pakem khusus untuk bisa “lengkap” menikmati rasa dalam sekeping cokelat.  Dan nikmatnya rasa cokelat ini samasekali bukan masalah kuantitas. Masalah kandungan gizi dalam cokelat ataupun efek penenangnya, itu bonus aja.  Yang utama : ada seni untuk menikmati cokelat, agar rasanya lebih “muncul” & lebih enak. Sama halnya dengan cara menikmati wine atau kopi, agar aromanya “pas” keluar & menguar lebih lama.

article-1017274-02511f2b0000044d-382_233x381_popupMenikmati cokelat, baik cokelat lokal merk “ratu-perak” sampe merk keluaran Swiss, perlu pake perasaan. Dinikmati perlahan. Makan cokelat nggak hanya sekedar robek/buka bungkusnya, caplok, gigit, kunyah-kunyah & dilahap sekaligus sampe ludes sekejap. Rasanya kalo gaya-makannya barbar kayak gitu, samaaja kayak makan kue getuk. Nggak jarang gue suka terganggu oleh suara kletak-kletuk kunyahan cokelat saat seseorang sedang makan cokelat. Yah, hak mereka sih untuk menentukan bagaimana cara mengganyang cokelat 😛 tapi Cokelat ini makanan enak, wooii…nikmatinya juga harus dalam keadaan yang enak. Ini juga yang mendasari gue untuk tidak impulsif langsung melahap cokelat dikala gue stress… kenapa ? Karena efek stimulan dari theobromin & antidepresan feniletilalamin dalam cokelat, yang bertemu dengan dorongan sugar-craving akibat stress, bisa membuat kita lepas kontrol saat melahap cokelat. Akhirnya yang didapat bukannya kenikmatan rasa si cokelat, tapi setimbun kalori dari gula & lemak berlebih, yang kemudian menyisakan rasa bersalah.

seujung_ajaLain makanan, lain pula cara untuk menikmatinya. Saat gue menikmati kopi atau teh (gue belum pernah menikmati wine) gue akan menikmati aroma seduhan yang menguar bersama uap kopi/teh itu.  Lalu gue minum sedikit dulu, membiarkan aroma teh/kopi memenuhi mulut gue, sampai menyentuh area di belakang langit2 mulut & menguar masuk ke indera penciuman. Nikmat-lah. Untuk cokelat, gue hanya akan menggigit seujung saja. Jangan buru-buru dikunyah. Didalam mulut, biarkan cokelatnya mencair di lidah. Saat rasa cokelatnya menguar memenuhi mulut menuju belakang langit-langit mulut, nah… itulah rasa pertama si cokelat. Semuanya terasa bercampur… rasa buttery yang gurih, manis, pahit getirnya cokelat, bercampur sedikiiiit masam & asin. Lembut. Hangat.

Tidak perlu buru-buru ditelan, nikmati saja.  Setelah beberapa saat, silakan ditelan. Jangan buru2 kepengen meneruskan gigitan cokelat kedua, beri jeda setelah hantaman-pertama rasa cokelat yang mungkin agak overwhelming itu. Tarik napas, hembuskan perlahan. Kalo udah, gigit lagi cokelatnya. Nikmati rasa & aroma kedua yang datang ini.

Diatas semuanya, Cokelat memang harus dinikmati dalam keadaan tenang, agar “rasa”nya muncul.

Selamat mencoba 😉

.

.

PS : beli sebatang cokelat di supermarket bawah dulu ah… 😉 Enakan semi-dark chocolate, atau milk-chocolate isi almond  yaa..?