Mungkin banyak diantara para pembaca sekalian yang pernah mendengar joke ttg minuman Mizone.

Tapi, kisah berikut ini adalah pengalaman pribadi, yang dengan-nyata-sekali dialami oleh penulis (gue sendiri !).

Kisah ini dimulai waktu gue terjebak kemacetan selama sejam di jalan Harsono RM-dekat Ragunan; waktu itu gue-bokap-nyokap janjian dengan keluarganya Baim untuk ketemuan di gedung acara resepsi nikahan. Mau survei bareng-bareng, ceritanya. Hanya tinggal 1km lagi menuju tempat tujuan… eh, malah kejebak macet. Bete-nya, selama sejam mobil kami nggak bisa gerak karena posisinya dipepet kopaja depan-belakang; jadilah mobil gak bisa keluar & putar-balik untuk cari jalan lain menuju gedung resepsi. Gilak… sejam bo’,  SEJAM kejebak macet, coba…??? Plus, gue kejebak macet bersama iring2an bus, kopaja & Metromini yang menuju bonbin Ragunan. Hwaduh. Gue nyaris gila. Bokap-nyokap udh puyeng & manyun.

Ditengah kenyaristidakwarasan gue karena terjebak macet,  bokap gue nyeletuk :

“Kak, Ayah haus, Kak…”

Sekilas, gue melirik ke luar. A-HA…, di depan gedung Departemen Pertanian ada banyak warung yang menjual minuman2, tuh.

“Aku juga haus, Yah… Macetnya masih gak bergerak, kan ? Aku turun aja deh, beli minuman di warung” ucap gue, menawarkan utk turun & membeli minuman. Setelah ngambil selembar sepuluhan ribu yang dikasih nyokap, gue turun & jalan menuju jejeran warung tersebut.

Masih gue dengar bokap berseru dari jendela mobil, “Beliin ayah Mizone yang passionfruit, ya Kak !? Mizone, ya !?”.  Sambil terus jalan, gue mengacungkan jempol tanda “OK !?”.

Dan kemudian disinilah, di dua warung yang berjejer tersebut, bencana “kebodohan” itu terjadi.

Warung pertama
Gue :  “Mas, ada mizone (baca : maizon) dingin, nggak ?”
Penjual :  “Hah ? Apa, mbak ?”
Gue :  (menunjuk botol minuman yang gue maksud) “Yang kayak gini, mas. Mizone. Tapi yang dingin. Ada ?”
Penjual :  (tersenyum mafhum) “Oooh… mijon, neng ?”
Gue : (terdiam prihatin) “Iya, Yang itu. Ada nggak ??”
Penjual :  “Yang dingin ??? Nggak ada, mbak.”
Gue : “. . .&*%!%^@%&!*!!!!!”

Gue pun beralih ke warung sebelah…

Warung kedua
Gue : (belajar dari pengalaman di warung pertama)  “Mas, ada mijon dingin, nggak ??”
Penjual : “…mijon ?” (terdiam & tampak mikir. Lalu ketawa lebar), “Maizon ‘kali, mbak…hehe…”
Gue :  “. . .”   (merasa jadi bodoh)
Penjual : (tanpa merasa bersalah)  “Maizon-nya gak ada yang dingin, mbak. Adanya yang biasa aja, Mau ?”
Gue : “. . . . . .”  (dalam hati berteriak : “AAAAaaaaaaaaarrrrggghhh !!! Sini loe semua, kasih ke gue semua mijon & maizon punya elu berdua, Sekalian sama botol-botol bekasnya Teh Botol !!!  Biar gue timpuk-timpukin elu berdua pake itu semua !!! Aaaarrrgghh !!!” )

.

Sejak saat itu, gue jadi il-feel sama minuman Mizone. Juga, gue jadi il-feel membeli Mizone di warung2 pinggir jalan.