Choconana Cream Cheese Fudge Cake

December 14th, 2011

Yak, masih dalam rangka memberdayagunakan pisang-pisang kematengan di rumah. OK abis ini saya ganti resep deh, nggak pake pisang atawa cokelat dulu… biar gak bosyen :-P

Bulan lalu sempat ngoprek resep banana cake jadi chocolava cake. Sebenarnya sama-sama banana cake, cuma ditambahin cocoa aja & dalamnya diberi potongan dark cooking chocolate. And… yes, dikukus juga ;-) Cuma kok jadinya kurang memuaskan, chocolate lavanya kurang meleleh. Ya mungkin karena pake dark cooking chocolate itu kali ya. Trus dimakannya juga setelah agak dingin, bukan pas masih panas. Ya iya ajaaa cokelat lelehnya keburu beku lagi, Aini :lol: Setahu… Selengkapnya

Categories: moi kitchenette | Tags: , , , , , , , , , , , | No Comments

Banapple Cake

December 10th, 2011

Ada pisang kematengan enaknya dibikin apa ? Pastinya mau digoreng atau dibikin kolak pun bakal mblenyek gagal :-P Paling enak ya dimasak jadi kue pisang a.k.a Banana Cake. Di rumah, ini adalah cara paling ampuh buat ngabisin seluruh pisang yang kematengan, hihi. Nggak tau kenapa, suka aja… dan aroma pisangwi dari banana cake-nya nanti bakal lembut. Ya karena kena tepung sama telur juga kali ya.

Trus di kulkas ada sebutir apel granny smith (yang kematengan juga), lupa dicampur ke nuggetnya Alma. Diapain dong ? Parut aja, cemplungin ke adonan banana cake. jadi, marilah kita namakan persilangan… Selengkapnya

Categories: moi kitchenette | Tags: , , , , , , , , , , , | No Comments

Steamed Carrot Cupcake

October 31st, 2011

Jujur, there were times dimana gue suka ngiri tiap denger temen cerita abis bikin cupcake… banana cobbler… muffins… dan kue-kue sebangsanya yang dipanggang *melirik sadis ke Meta & Otty :lol: * Kenapa ngiri ? Abisan disini gue nggak punya oven, hihii. Seringkali rasa kangen baking itu menyergap. Dan berganti jadi manyun karena nggak ada oven. Akhirnya cuma nge-baking kalo pas mudik, oven di dapur nyokap diabuse abis-abisan. Kalo disini beli oven, lah ovennya mau ditaro dimana… apartemennya tipe 4L begini. Mau beli oven listrik, listrik disini muahal. Yang murah malah gas, jadi emang cocoknya beli oven tangkring model… Selengkapnya

Categories: gallery, moi kitchenette | Tags: , , , , , , , , | 16 Comments

Japanese Style Cheesecake & Strawberry Cream

September 29th, 2010

Kalo lebaran tahun-tahun lalu biasanya ada project bikin kue-kue kering… di tahun ini gue nggak sempat bikin :lol: Rempong-surempong karena sekarang sudah ada Alma, yang mana tenaga gue habis buat mengurus dia plus nyuci onggokan popok & baju kotornya. Belum lagi kompor & oven dapur di rumah fully booked dipakai untuk memasak sambal goreng hati, rendang, gorengan emping, ketupat sayur, semur betawi, opor ayam, bubuk “ajaib”, telur pindang & areh santan… Nah boro-boro bikin kue, kompornya aja nonstop kerja estafet untuk masak itu makanan semua.

Tapi gue kangen masak. Serius, kangen banget-bangeeet setelah selama berbulan-bulan absen… Selengkapnya

Categories: moi kitchenette | Tags: , , | 6 Comments

Mari “Memasak” Diaper Cake !!

February 4th, 2010

Hohohoo… awalnya kepikiran untuk memasak kue popok a.k.a diaper cake ini saat brainstorming ide untuk kado aqiqahnya baby-Adam. Teman-teman usul untuk ngadoin selain mainan (mainan kan kepake’nya cuma sebentar… lagipula baru kepakai setelah diatas 3 bulan). Wah, jadinya dikasih kado apa ya ?

Kemudian barulah teringat pas awal Januari kemaren pernah ngobrol-ngobrol sama Emme tentang diapers & piranti newborn-baby lainnya. Betapa yaa, frekuensi bayi pipis & pup aja bisa jadi topik obrolan seru antara sesama emak-emak :lol: Dari obrolan tersebut, barulah ngeh kalo ternyata bayi banyaaaaak berganti popok disaat awal-awal bulan usianya. Hmmm… kalo begitu, kenapa… Selengkapnya

Categories: Do-It-Yourself, story lounge, the baby | Tags: , , , , , , , | 10 Comments

I’m Baaaaack !

October 20th, 2009

Setelah libur puanjaaaang yang sangaaaat menyenangkan di Jakarta & Bogor…
…yang mana diselingi dengan rasa frustasi karena tidak mendapatkan koneksi internet yang bagus…

… akhirnya,

saya kembali mengacak-acak dunia maya, BWAHAHAHAA… !
(ups…) :lol:

Well, lebih tepatnya sih kembali mengacak-acak blog sendiri, ya :lol: Eh… tapi serius lho, gw nyaris frustasi karena koneksi internet di rumah dan beberapa warnet yang gue jajal selama di JKT pada ngehe’ semua. Mau marrraaah deh :-( akhirnya yah kembali harus bergantung sama gprs hape lagi… cuma kepake buat ngontak temen via YM & cek account facebook, tapi itupun gak bisa dipake buat naro comment di wall messages (maafkan daku, wahai… Selengkapnya

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , | No Comments

Pulang Kampung & Lebaran

September 24th, 2009

Hahaaa… judulnya sekarang ngerasain “mudik” lagi nih :P

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa setelah sekian lama baru sekarang gue menulis posting lagi (deuh… GR), itu karena kemaren-kemaren gue diharuskan untuk beristirahat banyak oleh dokter… plus sedang menyiapkan acara mudik lebaran :lol:   Alhamdulillah lebaran tahun ini gue & Baim bisa pulang kampung ke tanah air tercinta Indonesia jaya :lol: Iya, soalnya kan tahun lalu kami nggak lebaran di Indonesia, tetapi ke Kelantan (lebaran di rumah tante-nya Baim). Makanya, tahun ini kami bela-belain untuk “mengetatkan ikat pinggang” & nabung demi bisa pulang mudik.

Jadi inget deh… Selengkapnya

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

“Sekolah Hidup-Susah”

August 18th, 2009

… Lagi ngobrol2 sama sahabat-sahabat sesama guru nih. Mulanya cuma saling berkomentar tentang acara bagi-report (setelah persiapan yang “berdarah-darah”) & ngobrolin tahun ajaran 2009/2010. Trus, lanjut sambil lihat-lihat foto event Sport-Day minggu lalu; di sekolah tersebut Sport Day diadakan setelah upacara 17-an untuk memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ;-) Hehe, been there-done that.  Aaaah… jadi kangen lagi dengan kegiatan ajar-mengajar di jaman dahulu kala… :lol:

Keasyikan ngobrol, topiknya malah “melebarrr” jadi ngobrolin sekolah-sekolah mahal yang sekarang banyak bermunculan di sekitar wilayah Jabodetabek. Sekolah-sekolah yang menjanjikan visi-misi-serta-fasilitas pendidikan yang kinclong, seperti pengajaran bahasa Inggris oleh native speaker, dual language program, active-learning, integrated thinking skills, dan sebagainya… pokoknya istilah-istilahnya terdengar keren karena nginggris gitu deh :-P Makanya mahal, lha wong kalau ada “rupa”, pasti ada “harga” ;-)

Kalau balik ke pengalaman waktu ngajar di sekolah, sayangnya program2 “kinclong” yang ditawarkan oleh sekolah itu jadinya seperti “beriklan”. Seolah memberi janji :  “bisa mengubah batu menjadi berlian”. Gue jadi penasaran juga sih, ada nggak yah sekolah yang “memasang-janji” berupa : “…menjamin-anak-anda-langsung-jadi-pengusaha-kaya-raya” ? :lol:   Becanda… becanda.

Bisa dipahami-lah maksud dari sekolah2 tersebut memasang “janji” yang indah untuk para orangtua. Semua orangtua pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya. Demi anak-anaknya, orangtua (kalau bisa) bakal berlomba-lomba mencari emas-diantar-mutiara. Kondisi inilah yang “ditangkap” oleh beberapa pengusaha-pendidikan (gue menyebutnya demikian), untuk melebarkan bisnis persekolahannya. Makin kinclong & eksklusif isi sekolahnya, maka kisaran harganya pun bisa ditebak :lol: Nggak usah jauh-jauh deh, contohnya di sekolah negeri : untuk bisa masuk di program “kelas-internasional”, uang pangkalnya saja bisa 10x lipat lebih mahal daripada “kelas-reguler”. Dan, biarpun program “kelas-internasional” tersebut kurikulumnya belum disertifikasi, tetap aja ada orangtua yang rela membayar demi anaknya bisa memperoleh segala fasilitas belajar terbaik yang ditawarkan oleh “kelas internasional” tersebut. See, itulah yang gue maksud. Terlihat seperti : tentu saja harus bayar mahal… ini kan kelasnya diajar secara dwibahasa, gurunya ngomong bahasa inggris, trus muridnya nanti belajar dengan kurikulum baru, trus ekskulnya lebih banyak, trus, trus… bla-bla-blaa. Pengusaha-sekolah membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendaftar baru… soal urusan kebijakan, kurikulum, penegakan disiplin dsb, itu urusan belakangan. Yang penting, modal mengalir dulu. Dan perlu diingat juga, salah satu bentuk “iklan” yang dipakai oleh pengusaha-pendidikan/persekolahan untuk menarik calon konsumen (orangtua & anak2nya) adalah promosi mulut-ke-mulut oleh para orang tua… Jadi yah kalo mau dilihat dari segi bisnis, orang tua merupakan target-market yang besar… apalagi mereka yang berasal dari kalangan menengah-keatas.

Anyway, balik istilah “bisa mengubah batu menjadi berlian” tadi. Keren yah, ngubah batu jadi berlian. Sebenarnya sih berliannya yang keren :lol: Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih untuk menghargai & mendapatkan keindahan berlian yang “sudah jadi” saja. Nggak mau repot. Nope, ini cuma pengandaian aja yah… bukan benar2 memilih untuk bikin berlian from the scratch. Banyak orang sering lupa, kalau berlian itu “matang” setelah melewati sekian banyak proses tempaan alam berusia jutaan tahun, dengan peraman panas bumi, diberi tekanan-tinggi, kena berbagai golakan, gerusan, asahan… Pada akhirnya, sering mereka lupa kalau proses-tempaan terus-menerus inilah yang justru membentuk keindahan berlian. Intinya, bikin berlian itu nggak instan.

Sama halnya dengan “membentuk” seorang anak/siswa, nggak bisa instan. Anak adalah manusia. Perlu waktu seumur-hidup, dari lahir-sampai-tua dengan segala speed-bumps of life, untuk membuat manusia se-kinclong berlian sekaligus tetap se-humble butir pasir di dasar laut. Gue pikir, tempaan-tempaan inilah yang terkadang suka dilupakan oleh para pengusaha-pendidikan, dimana mereka cenderung sebanyak-banyaknya meraup keuntungan dari banyaknya orangtua yang mau mendaftarkan siswanya masuk kesekolah mereka, namun akhirnya melupakan beberapa hal yang penting untuk diajarkan & dibiasakan kepada siswa, seperti kebiasaan disiplin, atau menumbuhkan rasa tepo-seliro & empati agar anak tumbuh menjadi manusia yang “peka” terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Banyak sekali sebenarnya hal-hal yang berperan penting dalam “pengembangan” karakter anak (siswa), in fact, ini bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga segenap pihak sekolah.

Satu cerita dari jaman SD dulu, gue pernah dapet detention saat jam istirahat sekolah. Oleh guru gue, gue nggak dibolehin langsung keluar jajan & main sama teman2, karena… gue kebanyakan ngobrol pas mengerjakan tugas latihan. Bisa ditebak, karena ngobrol, tugas gue nggak selesai. Namanya anak kecil, akal bulusnya adaaa aja; gue nego deh ke gurunya buat ngerjain latihannya di rumah. Tapi guru gue insist, jawaban atas nego gue adalah : TIDAK, tugas latihan bukanlah pekerjaan-rumah & harus diselesaikan di sekolah; maka gue harus membayar hutang “waktu untuk mengerjakan tugas latihan” dengan mengambil “waktu bermain” gue. Gue masih ingat kata-kata guru gue : “Kalau tadi Aini tidak ngobrol pas jam pelajaran, sekarang pasti tugasnya sudah selesai ‘kan ? Kan Ibu sudah peringatkan, ngobrol sama temannya nanti aja saat saat istirahat, sambil main-main. Sekarang Ibu mau tugasnya Aini selesai dulu, baru kemudian Aini boleh istirahat. “

Tugas yang gue tinggalkan itu nggak banyak, cuma beberapa soal tentang himpunan bilangan (masih inget, Bo’… :lol: ). Pun, guru gue mengucapkan kalimat tersebut nggak sambil marah-marah. Tapi entah kenapa… rasanya nyesek banget bagi gue, yang saat itu menganggap waktu istirahat adalah segala-galanya, harus menghabiskan setengah waktu istirahat di dalam kelas, kena detention. Mana kaki rasanya udah gatel pengen buru-buru melesat ke kantin sekolah & makan siomay, plus gue malu bukan kepalang karena teman-teman melihat gue “disetrap” dalam kelas oleh guru. Setelah kejadian detention itu, gue selalu berusaha untuk nggak menunda-nunda tugas lagi :lol: Itu baru contoh tempaan atau pelajaran-pelajaran hidup yang kecil. Semakin bertambah usia, semakin besar juga tingkat-kesulitan tempaannya :-P Hal-hal kayak gini-lah yang nggak diajarkan secara akademis di sekolah, tetapi ternyata turut membentuk karakter anak. Hal-hal yang kelihatannya remeh namun penting, seperti belajar menerima kata tidak, belajar disiplin & well-organized, atau harus menerima konsekuensi dari kesalahan yang diperbuat. Tetap ada pelajaran yang bisa dipetik sesudahnya, supaya setelah besar nanti  jadi nggak mengulangi kesalahan yang sama.… Selengkapnya

Categories: jendela-hati | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

Klappertaart Keju

August 1st, 2009

Pulang ke Jakarta berarti… siap-siap ditodong untuk “masak” :lol: Selama di Penang, tiap kali Ali-Agam tanya “Masak apa, Kak ??”, apapun jawaban gue selalu dibalas dengan todongan “Ntar kalo pulang masakin ya ??? Curang lu, di Penang doang masaknya.”

Ya iya laaah gue masak-nya di Penang… kalo gak masak, si Baim makan apa, coba… ? :-P

Salah satu hal yang menyenangkan dari pulang ke Jakarta adalah… ada oven di kompor rumah nyokap  :lol: Berbeda dengan di flat sewaan kami, dimana kompornya nggak ber-oven. Mau beli oven terpisah, kok ya rada mahal & sayang aja… Selengkapnya

Categories: moi kitchenette | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | No Comments

Kembali ke Penang…

July 31st, 2009

= kembali ke pelukan suamiku tercintah:lol:

Seperti biasa, gue baru ngepak isi koper semalam sebelum berangkat… sambil santai-santai. Ini, sukses bikin nyokap gue bolak-balik berseru :  “Kakak, ayo ngepak kopernya dulu, jangan nonton TV melulu ! Abis itu langsung tidur, gak usah nonton-nonton TV lagi… besok kan subuh-subuh mesti ke Cengkareng… Ntar gak bisa bangun lho !!” :-P

Akhirnya… gue ngepak. Dalam kamus gue, kata “packing” berarti = “berusaha menjejalkan seluruh barang yang pengen gue bawa kedalam satu koper… kemudian kesulitan memilih barang-barang yang perlu gue bawa” :lol: Jadinya wants Vs. needs juga… Selengkapnya

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments