Oct 302012
 

Waktu awal-awal 2012 lalu baca hasil perpanjangan visa, gue melongo kaget. Kok cuma dikasih sampai November 2012 siiiih? Biasanya kan sampai setahun. Ini setahun aja kagak nyampe. Boro-boro, sembilan bulan aja kagak. Baim pun menjelaskan kalau peraturan yang sekarang itu batas visa diberikan sampai akhir masa kontrak kerja saja. Trus harus perpanjang lagi dong ntar?

Diperpanjang lagi kalo aku jadi sekolah disini atau dikontrak kerja lagi,” kata Baim

Kamu rencana mau nerusin lagi di Penang?”

“Nggak lah!” samber Baim, “Udah tujuh tahun aku di Penang, bisa bulukan ntar…”

“Ntar pindahnya kemana yah kita?”

Jul 052012
 

Sedang mengalami sindrom-pasca-liburan super akut nih. Iya sih, kalo istilahnya nyokap gue nih: “tidak ada pesta yang tak usai”. Tapi… aku masih pengen liburan lagiii!

Ceritanya kemaren gue, Baim & Alma abis ikutan gank Parlimail liburan ke Taiping. Adapun gank Parlimail beranggotakan mahasiswa-mahasiswi riset yang seangkatan sama Baim pas kuliah master disini. Mereka DOYAN BANGET jalan-jalan, makan-makan & menggabungkannya dalam acara resmi bernama Jalan-Jalan Cari Makan. Minimal setahun dua kali selalu ada acara JJCM ini. Acaranya ya kayak wisata kuliner gitu, tapi dijabanin sampe ke luar Penang segala. Seru kan? Seru banget !! Kalo bukan karena… Selengkapnya

 Posted by at 18:00
Jun 122012
 

Katanya, takdir itu sudah digariskan… tapi kitalah yang mencari jalan untuk menuju & meraih takdir tersebut.

Tersebutlah beberapa tahun yang lalu, ada seorang cewek yang baru lulus SMA memutuskan untuk ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Jangan ditanya lah yaa, udah seberapa tuir itu cewek sekarang… dari dipakainya istilah UMPTN aja udah bisa dikira-kira waktu itu tahun berapa :lol:

Eniwei…

Si cewek ini ikut UMPTN karena… cuma itu pilihan yang tersisa, buat dia agar bisa lanjut sekolah dengan kuliah. Dua bulan sebelumnya, si cewek dapet kabar kalau dia… nggak lulus PMDK… Selengkapnya

 Posted by at 18:35
Dec 052010
 

Sebagai orang yang agak-agak buta-nada & suka males kalau disuruh nyanyi, hobi baru gue selama 7 bulan belakangan ini terbilang cukup “unik” : nyanyi buat Alma. Yeah, punya anak bisa bikin orang jadi berani (atau dituntut ?) mencoba hal-hal baru, terutama hal-hal yang dulu nggak pernah pengen dicoba. Nyanyinya sih hanya lullaby a.k.a lagu nina bobo yang simpel-simpel aja.

Sebenarnya ada satu kejadian yang bikin gue terdorong untuk bernyanyi ini. Balik ke jaman waktu kerja dulu, di sebuah acara sekolah yang mengharuskan gue menemani murid-murid yang nginep di sekolah. Pas malam saat lampu sudah dimatikan &amp… Selengkapnya

Sep 102010
 

Taqabbalallahu minna wa minkum, teman-teman…

Mohon maaf atas segala salah-salah lisan & perbuatan :-) Have a blessed Lebaran-day !

Oia, ada sedikit cerita tentang lebaran tahun ini *yakin loo, cuma sedikit ?*. Lebaran tahun ini… nggak ada sepatu baru. Nggak ada parsel baru.

Tapi, ada anggota keluarga baru ! :-D

Yup ! Anak yang tahun lalu masih ngendon didalam rahim berukuran gak sampai 10 cm, tahun ini udah berusia 4… Selengkapnya

Aug 112010
 

… semoga Allah s.w.t menerima amal ibadah saya & kengkawan sekalian :-)

Jadi, bagaimana hari pertama puasa kengkawan sekalian ?
Mine didn’t turn out so well. Bukan karena ASI-nya surut terus kelaparan & sakit, tapi kena anemia & tensi ngedrop. Seharian jadi lethargic, padahal banyak sekali yang harus dikerjakan… dan Alma seharian ini ingin minum terus; ada kali sejam sekali minum dengan lahapnya. Aneh, padahal pas sahur udah minum susu-madu, makan oatmeal & sangobion. Harusnya kuat yah, hiks. Akhirnya Baim bilang ambil keringanan aja, “Jangan paksain diri,” kata Baim “Lebih nggak enak lagi kalau kamu sakit

Dec 312009
 

Senin malam kemarin, nggak ada angin-nggak ada hujan, tiba-tiba Baim ngajak… makan seafood. “Seafood ? Yakin, kamu ?” tanya gue setengah heran-setengah takjub.

“Iya ! Kita makan di Marin yuk, yang Nurul Ikan Bakar itu…”

“Makan malem ? Di Marin ? Emangnya ada bus yang lewat kesana ?”

“Gampang, kita naek taksi !”

Wahaa… tumben-tumbenan nih laki gue, pas tanggal-tua malah ngajak makan-makan enak, di restoran seafood pula :lol: “Ya kita rayain tahun-barunya lebih dulu laah… Daripada dirayain pas malem tahun baru,  ntar bakal keramean !” ucap Baim, “Lagian

Aug 262009
 

Hehee, sedikit curhat : gue sedang kangen dengan profesi-mengajar yang sudah “absen” setahun lebih ;-) Ngajar anak-anak SMP memang banyak suka-dukanya, banyak ceritanya, serta banyak  ‘tantangan’nya. Bukan hanya tantangan dalam mengajar dari materi pelajaran, tetapi juga tantangan besaaar yang tersembunyi di balik kata PUBERTY :lol: ABG, gitu loh. Dulu kalau melihat polah-tingkah ajaib dari murid-murid gue, kadang-kadang gue suka ngebatin sendiri : “Walah, jadi kayak begini yah polah-tingkah gue waktu dulu pas ABG ??” :lol:

Jujur yah… secara umum, profesi guru masih sering “dipandang sebelah mata”.  Gue pernah merasakannya, saat  mendapati reaksi orang yang bertanya tentang… Selengkapnya

Aug 182009
 

… Lagi ngobrol2 sama sahabat-sahabat sesama guru nih. Mulanya cuma saling berkomentar tentang acara bagi-report (setelah persiapan yang “berdarah-darah”) & ngobrolin tahun ajaran 2009/2010. Trus, lanjut sambil lihat-lihat foto event Sport-Day minggu lalu; di sekolah tersebut Sport Day diadakan setelah upacara 17-an untuk memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ;-) Hehe, been there-done that.  Aaaah… jadi kangen lagi dengan kegiatan ajar-mengajar di jaman dahulu kala… :lol:

Keasyikan ngobrol, topiknya malah “melebarrr” jadi ngobrolin sekolah-sekolah mahal yang sekarang banyak bermunculan di sekitar wilayah Jabodetabek. Sekolah-sekolah yang menjanjikan visi-misi-serta-fasilitas pendidikan yang kinclong, seperti pengajaran bahasa Inggris oleh native speaker, dual language program, active-learning, integrated thinking skills, dan sebagainya… pokoknya istilah-istilahnya terdengar keren karena nginggris gitu deh :-P Makanya mahal, lha wong kalau ada “rupa”, pasti ada “harga” ;-)

Kalau balik ke pengalaman waktu ngajar di sekolah, sayangnya program2 “kinclong” yang ditawarkan oleh sekolah itu jadinya seperti “beriklan”. Seolah memberi janji :  “bisa mengubah batu menjadi berlian”. Gue jadi penasaran juga sih, ada nggak yah sekolah yang “memasang-janji” berupa : “…menjamin-anak-anda-langsung-jadi-pengusaha-kaya-raya” ? :lol:   Becanda… becanda.

Bisa dipahami-lah maksud dari sekolah2 tersebut memasang “janji” yang indah untuk para orangtua. Semua orangtua pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya. Demi anak-anaknya, orangtua (kalau bisa) bakal berlomba-lomba mencari emas-diantar-mutiara. Kondisi inilah yang “ditangkap” oleh beberapa pengusaha-pendidikan (gue menyebutnya demikian), untuk melebarkan bisnis persekolahannya. Makin kinclong & eksklusif isi sekolahnya, maka kisaran harganya pun bisa ditebak :lol: Nggak usah jauh-jauh deh, contohnya di sekolah negeri : untuk bisa masuk di program “kelas-internasional”, uang pangkalnya saja bisa 10x lipat lebih mahal daripada “kelas-reguler”. Dan, biarpun program “kelas-internasional” tersebut kurikulumnya belum disertifikasi, tetap aja ada orangtua yang rela membayar demi anaknya bisa memperoleh segala fasilitas belajar terbaik yang ditawarkan oleh “kelas internasional” tersebut. See, itulah yang gue maksud. Terlihat seperti : tentu saja harus bayar mahal… ini kan kelasnya diajar secara dwibahasa, gurunya ngomong bahasa inggris, trus muridnya nanti belajar dengan kurikulum baru, trus ekskulnya lebih banyak, trus, trus… bla-bla-blaa. Pengusaha-sekolah membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendaftar baru… soal urusan kebijakan, kurikulum, penegakan disiplin dsb, itu urusan belakangan. Yang penting, modal mengalir dulu. Dan perlu diingat juga, salah satu bentuk “iklan” yang dipakai oleh pengusaha-pendidikan/persekolahan untuk menarik calon konsumen (orangtua & anak2nya) adalah promosi mulut-ke-mulut oleh para orang tua… Jadi yah kalo mau dilihat dari segi bisnis, orang tua merupakan target-market yang besar… apalagi mereka yang berasal dari kalangan menengah-keatas.

Anyway, balik istilah “bisa mengubah batu menjadi berlian” tadi. Keren yah, ngubah batu jadi berlian. Sebenarnya sih berliannya yang keren :lol: Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih untuk menghargai & mendapatkan keindahan berlian yang “sudah jadi” saja. Nggak mau repot. Nope, ini cuma pengandaian aja yah… bukan benar2 memilih untuk bikin berlian from the scratch. Banyak orang sering lupa, kalau berlian itu “matang” setelah melewati sekian banyak proses tempaan alam berusia jutaan tahun, dengan peraman panas bumi, diberi tekanan-tinggi, kena berbagai golakan, gerusan, asahan… Pada akhirnya, sering mereka lupa kalau proses-tempaan terus-menerus inilah yang justru membentuk keindahan berlian. Intinya, bikin berlian itu nggak instan.

Sama halnya dengan “membentuk” seorang anak/siswa, nggak bisa instan. Anak adalah manusia. Perlu waktu seumur-hidup, dari lahir-sampai-tua dengan segala speed-bumps of life, untuk membuat manusia se-kinclong berlian sekaligus tetap se-humble butir pasir di dasar laut. Gue pikir, tempaan-tempaan inilah yang terkadang suka dilupakan oleh para pengusaha-pendidikan, dimana mereka cenderung sebanyak-banyaknya meraup keuntungan dari banyaknya orangtua yang mau mendaftarkan siswanya masuk kesekolah mereka, namun akhirnya melupakan beberapa hal yang penting untuk diajarkan & dibiasakan kepada siswa, seperti kebiasaan disiplin, atau menumbuhkan rasa tepo-seliro & empati agar anak tumbuh menjadi manusia yang “peka” terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Banyak sekali sebenarnya hal-hal yang berperan penting dalam “pengembangan” karakter anak (siswa), in fact, ini bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga segenap pihak sekolah.

Satu cerita dari jaman SD dulu, gue pernah dapet detention saat jam istirahat sekolah. Oleh guru gue, gue nggak dibolehin langsung keluar jajan & main sama teman2, karena… gue kebanyakan ngobrol pas mengerjakan tugas latihan. Bisa ditebak, karena ngobrol, tugas gue nggak selesai. Namanya anak kecil, akal bulusnya adaaa aja; gue nego deh ke gurunya buat ngerjain latihannya di rumah. Tapi guru gue insist, jawaban atas nego gue adalah : TIDAK, tugas latihan bukanlah pekerjaan-rumah & harus diselesaikan di sekolah; maka gue harus membayar hutang “waktu untuk mengerjakan tugas latihan” dengan mengambil “waktu bermain” gue. Gue masih ingat kata-kata guru gue : “Kalau tadi Aini tidak ngobrol pas jam pelajaran, sekarang pasti tugasnya sudah selesai ‘kan ? Kan Ibu sudah peringatkan, ngobrol sama temannya nanti aja saat saat istirahat, sambil main-main. Sekarang Ibu mau tugasnya Aini selesai dulu, baru kemudian Aini boleh istirahat. “

Tugas yang gue tinggalkan itu nggak banyak, cuma beberapa soal tentang himpunan bilangan (masih inget, Bo’… :lol: ). Pun, guru gue mengucapkan kalimat tersebut nggak sambil marah-marah. Tapi entah kenapa… rasanya nyesek banget bagi gue, yang saat itu menganggap waktu istirahat adalah segala-galanya, harus menghabiskan setengah waktu istirahat di dalam kelas, kena detention. Mana kaki rasanya udah gatel pengen buru-buru melesat ke kantin sekolah & makan siomay, plus gue malu bukan kepalang karena teman-teman melihat gue “disetrap” dalam kelas oleh guru. Setelah kejadian detention itu, gue selalu berusaha untuk nggak menunda-nunda tugas lagi :lol: Itu baru contoh tempaan atau pelajaran-pelajaran hidup yang kecil. Semakin bertambah usia, semakin besar juga tingkat-kesulitan tempaannya :-P Hal-hal kayak gini-lah yang nggak diajarkan secara akademis di sekolah, tetapi ternyata turut membentuk karakter anak. Hal-hal yang kelihatannya remeh namun penting, seperti belajar menerima kata tidak, belajar disiplin & well-organized, atau harus menerima konsekuensi dari kesalahan yang diperbuat. Tetap ada pelajaran yang bisa dipetik sesudahnya, supaya setelah besar nanti  jadi nggak mengulangi kesalahan yang sama.… Selengkapnya

Aug 132009
 

greenherbs… Nope, ini bukan ulasan tentang food court di Plaza-Senayan yang Soto Betawi-nya enak ituh. Jadi maaf ya untuk para pecinta kuliner ;-) Kali mari kita sedikit “menyerempet” berbicara tentang… tanaman bumbu. Ternyata, nggak jauh-jauh juga ya dari soal makanan :lol: Bukan 100% makanan, tapi justru inilah yang bikin makanan jadi sedappp.

Waktu tahun lalu ayah berkunjung ke sini, beliau berkomentar : “Kak, di depan flat kamu ditaro tanaman-tanaman hias dong. Yang kecil-kecil gitu. Kan seger dilihat, Kak… Hijau-hijau tiap pagi, dilihatin sambil disiram… Bikin adem lho.”

Gue cuma nyengir mendengar usulan ayah. Nyengir, karena berbeda dengan ayah yang bertangan-dingin dalam hal memelihara tanaman, tangan gue samasekali nggak ‘dingin’ dalam hal miara tanaman. Oo, i’m suck at growing plants… in fact, kayaknya nggak segitu jagonya miara makhluk-hidup; miara suami-tercinta aja kadang-kadang masih suka lupa dikasih sarapan :lol: Dan, gue pikir … Selengkapnya