… Lagi ngobrol2 sama sahabat-sahabat sesama guru nih. Mulanya cuma saling berkomentar tentang acara bagi-report (setelah persiapan yang “berdarah-darah”) & ngobrolin tahun ajaran 2009/2010. Trus, lanjut sambil lihat-lihat foto event Sport-Day minggu lalu; di sekolah tersebut Sport Day diadakan setelah upacara 17-an untuk memperingati Dirgahayu Republik Indonesia
Hehe, been there-done that. Aaaah… jadi kangen lagi dengan kegiatan ajar-mengajar di jaman dahulu kala… 
Keasyikan ngobrol, topiknya malah “melebarrr” jadi ngobrolin sekolah-sekolah mahal yang sekarang banyak bermunculan di sekitar wilayah Jabodetabek. Sekolah-sekolah yang menjanjikan visi-misi-serta-fasilitas pendidikan yang kinclong, seperti pengajaran bahasa Inggris oleh native speaker, dual language program, active-learning, integrated thinking skills, dan sebagainya… pokoknya istilah-istilahnya terdengar keren karena nginggris gitu deh
Makanya mahal, lha wong kalau ada “rupa”, pasti ada “harga” 
Kalau balik ke pengalaman waktu ngajar di sekolah, sayangnya program2 “kinclong” yang ditawarkan oleh sekolah itu jadinya seperti “beriklan”. Seolah memberi janji : “bisa mengubah batu menjadi berlian”. Gue jadi penasaran juga sih, ada nggak yah sekolah yang “memasang-janji” berupa : “…menjamin-anak-anda-langsung-jadi-pengusaha-kaya-raya” ?
Becanda… becanda.
Bisa dipahami-lah maksud dari sekolah2 tersebut memasang “janji” yang indah untuk para orangtua. Semua orangtua pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya. Demi anak-anaknya, orangtua (kalau bisa) bakal berlomba-lomba mencari emas-diantar-mutiara. Kondisi inilah yang “ditangkap” oleh beberapa pengusaha-pendidikan (gue menyebutnya demikian), untuk melebarkan bisnis persekolahannya. Makin kinclong & eksklusif isi sekolahnya, maka kisaran harganya pun bisa ditebak
Nggak usah jauh-jauh deh, contohnya di sekolah negeri : untuk bisa masuk di program “kelas-internasional”, uang pangkalnya saja bisa 10x lipat lebih mahal daripada “kelas-reguler”. Dan, biarpun program “kelas-internasional” tersebut kurikulumnya belum disertifikasi, tetap aja ada orangtua yang rela membayar demi anaknya bisa memperoleh segala fasilitas belajar terbaik yang ditawarkan oleh “kelas internasional” tersebut. See, itulah yang gue maksud. Terlihat seperti : tentu saja harus bayar mahal… ini kan kelasnya diajar secara dwibahasa, gurunya ngomong bahasa inggris, trus muridnya nanti belajar dengan kurikulum baru, trus ekskulnya lebih banyak, trus, trus… bla-bla-blaa. Pengusaha-sekolah membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendaftar baru… soal urusan kebijakan, kurikulum, penegakan disiplin dsb, itu urusan belakangan. Yang penting, modal mengalir dulu. Dan perlu diingat juga, salah satu bentuk “iklan” yang dipakai oleh pengusaha-pendidikan/persekolahan untuk menarik calon konsumen (orangtua & anak2nya) adalah promosi mulut-ke-mulut oleh para orang tua… Jadi yah kalo mau dilihat dari segi bisnis, orang tua merupakan target-market yang besar… apalagi mereka yang berasal dari kalangan menengah-keatas.
Anyway, balik istilah “bisa mengubah batu menjadi berlian” tadi. Keren yah, ngubah batu jadi berlian. Sebenarnya sih berliannya yang keren
Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih untuk menghargai & mendapatkan keindahan berlian yang “sudah jadi” saja. Nggak mau repot. Nope, ini cuma pengandaian aja yah… bukan benar2 memilih untuk bikin berlian from the scratch. Banyak orang sering lupa, kalau berlian itu “matang” setelah melewati sekian banyak proses tempaan alam berusia jutaan tahun, dengan peraman panas bumi, diberi tekanan-tinggi, kena berbagai golakan, gerusan, asahan… Pada akhirnya, sering mereka lupa kalau proses-tempaan terus-menerus inilah yang justru membentuk keindahan berlian. Intinya, bikin berlian itu nggak instan.
Sama halnya dengan “membentuk” seorang anak/siswa, nggak bisa instan. Anak adalah manusia. Perlu waktu seumur-hidup, dari lahir-sampai-tua dengan segala speed-bumps of life, untuk membuat manusia se-kinclong berlian sekaligus tetap se-humble butir pasir di dasar laut. Gue pikir, tempaan-tempaan inilah yang terkadang suka dilupakan oleh para pengusaha-pendidikan, dimana mereka cenderung sebanyak-banyaknya meraup keuntungan dari banyaknya orangtua yang mau mendaftarkan siswanya masuk kesekolah mereka, namun akhirnya melupakan beberapa hal yang penting untuk diajarkan & dibiasakan kepada siswa, seperti kebiasaan disiplin, atau menumbuhkan rasa tepo-seliro & empati agar anak tumbuh menjadi manusia yang “peka” terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Banyak sekali sebenarnya hal-hal yang berperan penting dalam “pengembangan” karakter anak (siswa), in fact, ini bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga segenap pihak sekolah.
Satu cerita dari jaman SD dulu, gue pernah dapet detention saat jam istirahat sekolah. Oleh guru gue, gue nggak dibolehin langsung keluar jajan & main sama teman2, karena… gue kebanyakan ngobrol pas mengerjakan tugas latihan. Bisa ditebak, karena ngobrol, tugas gue nggak selesai. Namanya anak kecil, akal bulusnya adaaa aja; gue nego deh ke gurunya buat ngerjain latihannya di rumah. Tapi guru gue insist, jawaban atas nego gue adalah : TIDAK, tugas latihan bukanlah pekerjaan-rumah & harus diselesaikan di sekolah; maka gue harus membayar hutang “waktu untuk mengerjakan tugas latihan” dengan mengambil “waktu bermain” gue. Gue masih ingat kata-kata guru gue : “Kalau tadi Aini tidak ngobrol pas jam pelajaran, sekarang pasti tugasnya sudah selesai ‘kan ? Kan Ibu sudah peringatkan, ngobrol sama temannya nanti aja saat saat istirahat, sambil main-main. Sekarang Ibu mau tugasnya Aini selesai dulu, baru kemudian Aini boleh istirahat. “
Tugas yang gue tinggalkan itu nggak banyak, cuma beberapa soal tentang himpunan bilangan (masih inget, Bo’…
). Pun, guru gue mengucapkan kalimat tersebut nggak sambil marah-marah. Tapi entah kenapa… rasanya nyesek banget bagi gue, yang saat itu menganggap waktu istirahat adalah segala-galanya, harus menghabiskan setengah waktu istirahat di dalam kelas, kena detention. Mana kaki rasanya udah gatel pengen buru-buru melesat ke kantin sekolah & makan siomay, plus gue malu bukan kepalang karena teman-teman melihat gue “disetrap” dalam kelas oleh guru. Setelah kejadian detention itu, gue selalu berusaha untuk nggak menunda-nunda tugas lagi
Itu baru contoh tempaan atau pelajaran-pelajaran hidup yang kecil. Semakin bertambah usia, semakin besar juga tingkat-kesulitan tempaannya
Hal-hal kayak gini-lah yang nggak diajarkan secara akademis di sekolah, tetapi ternyata turut membentuk karakter anak. Hal-hal yang kelihatannya remeh namun penting, seperti belajar menerima kata tidak, belajar disiplin & well-organized, atau harus menerima konsekuensi dari kesalahan yang diperbuat. Tetap ada pelajaran yang bisa dipetik sesudahnya, supaya setelah besar nanti jadi nggak mengulangi kesalahan yang sama.… Selengkapnya