Soto Betawi

August 30th, 2009

dsc08626Kemarin siang saat Penang lagi dingin-dinginnya diguyur hujan… dalam gelungan selimut tebal yang hangat… tiba-tiba saja, terbitlah hasrat untuk menyantap Soto Betawi :-D

BO’, susah ya kalo lagi jauuuuh dari tanah kelahiran, trus tiba-tiba ngebet pengen makan makanan Indonesia. Apalagi kalo pengennya makan soto… uuuuwh. Kalau di JKT ngebet makan Soto Betawi, tinggal beli aja. Lha kalo disini, kagak ada yang jual Soto Betawi. Kalo udah begini, pilihannya cuma dua : keep on drooling, atau kudu usaha bikin sendiri-from the scratch. Sebenarnya kalau sotonya harus dimasak sendiri… Selengkapnya

Categories: moi kitchenette | Tags: , , , , | 4 Comments

Si Kecil yang Berlesung-Pipi

August 29th, 2009

Beberapa hari ini, gue lagi senang mematuti sebuah foto sambil ketawa-ketawa geli. Foto lama, sih… flashback lagi ke tahun 80-an, berupa foto keluarga-besarnya Baim yang dimuat dalam album facebook tante Idus. Oleh tante Idus, nama gue ikut di-tagged dalam foto tersebut. Bukan, bukan di-tagged karena gue ikut difoto disitu yah, karena gue & Baim kan baru bertemu sekitar 18 tahun setelah acara itu berlangsung (jadi nggak mungkin laah gue “benar-benar” hadir & ikut diabadikan dalam foto tersebut) :-P

baim_3Instead, dalam foto tersebut, nama gue di-tagged pada gambar… Selengkapnya

Categories: Aini & Baim | Tags: , | No Comments

What is a ‘Teacher’ ?

August 26th, 2009

Hehee, sedikit curhat : gue sedang kangen dengan profesi-mengajar yang sudah “absen” setahun lebih ;-) Ngajar anak-anak SMP memang banyak suka-dukanya, banyak ceritanya, serta banyak  ‘tantangan’nya. Bukan hanya tantangan dalam mengajar dari materi pelajaran, tetapi juga tantangan besaaar yang tersembunyi di balik kata PUBERTY :lol: ABG, gitu loh. Dulu kalau melihat polah-tingkah ajaib dari murid-murid gue, kadang-kadang gue suka ngebatin sendiri : “Walah, jadi kayak begini yah polah-tingkah gue waktu dulu pas ABG ??” :lol:

Jujur yah… secara umum, profesi guru masih sering “dipandang sebelah mata”.  Gue pernah merasakannya, saat  mendapati reaksi orang yang bertanya tentang… Selengkapnya

Categories: jendela-hati, pool of thoughts | Tags: , , | 5 Comments

Taj Mahal… or, Taj”Murah” ?

August 24th, 2009

the_namesake_dvd

Habis nonton The Namesake, untuk kedua kalinya. Diadaptasi dari buku berjudul sama karya Jhumpa Lahiri, filmnya sendiri bercerita tentang benturan-benturan budaya yang dialami oleh sebuah keluarga asal India tatkala mereka tinggal di New York. Gue sukaaa banget sama film ini… partly because Kal Penn main disini (hahahaa… mukanya ngebodor abis, apalagi kalo inget pas dia main di Harold & Kumar), lainnya karena gue menggemari buku-buku karyanya Jhumpa Lahiri. Dalam setiap konflik yang hadir pada ceritanya, selalu ada pesan “membumi” yang bijak.

Eniwei… ada… Selengkapnya

Categories: Aini & Baim | Tags: , , , | 5 Comments

Tahu-Telor

August 21st, 2009

Udah sejak awal Agustus yang lalu gue pengeeeen banget makan Tahu-Telor. Huhuhu, makanan jawa-timuran ini sedapppnya selalu sukses bikin merem-melek keenakan saat dilahap, apalagi kalau pake bumbu petis… *slurrrrpppsjadingiler*  :lol:

Kalau lihat tahu-telur yang tebal, bulat berbongkah-bongkah, hohohoo… gue belum bisa bikinnya. Tetapi pernah sekali makan yang bentuknya serupa dadar & bumbu kacang-kecapnya itu lho…. terasa pakai petis, maknyussssss banget :lol: Setelah minggu lalu kecewa karena di food-court JUSCO nggak ada Tahu-Telur (padahal hidangannya dipasang di daftar menu, coba ??? Deceiving banget, ih :-( ), akhirnya pagi ini gue coba sendiri untuk bikin Tahu-Telur… minus bumbu… Selengkapnya

Categories: moi kitchenette | Tags: , , | No Comments

“Sekolah Hidup-Susah”

August 18th, 2009

… Lagi ngobrol2 sama sahabat-sahabat sesama guru nih. Mulanya cuma saling berkomentar tentang acara bagi-report (setelah persiapan yang “berdarah-darah”) & ngobrolin tahun ajaran 2009/2010. Trus, lanjut sambil lihat-lihat foto event Sport-Day minggu lalu; di sekolah tersebut Sport Day diadakan setelah upacara 17-an untuk memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ;-) Hehe, been there-done that.  Aaaah… jadi kangen lagi dengan kegiatan ajar-mengajar di jaman dahulu kala… :lol:

Keasyikan ngobrol, topiknya malah “melebarrr” jadi ngobrolin sekolah-sekolah mahal yang sekarang banyak bermunculan di sekitar wilayah Jabodetabek. Sekolah-sekolah yang menjanjikan visi-misi-serta-fasilitas pendidikan yang kinclong, seperti pengajaran bahasa Inggris oleh native speaker, dual language program, active-learning, integrated thinking skills, dan sebagainya… pokoknya istilah-istilahnya terdengar keren karena nginggris gitu deh :-P Makanya mahal, lha wong kalau ada “rupa”, pasti ada “harga” ;-)

Kalau balik ke pengalaman waktu ngajar di sekolah, sayangnya program2 “kinclong” yang ditawarkan oleh sekolah itu jadinya seperti “beriklan”. Seolah memberi janji :  “bisa mengubah batu menjadi berlian”. Gue jadi penasaran juga sih, ada nggak yah sekolah yang “memasang-janji” berupa : “…menjamin-anak-anda-langsung-jadi-pengusaha-kaya-raya” ? :lol:   Becanda… becanda.

Bisa dipahami-lah maksud dari sekolah2 tersebut memasang “janji” yang indah untuk para orangtua. Semua orangtua pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya. Demi anak-anaknya, orangtua (kalau bisa) bakal berlomba-lomba mencari emas-diantar-mutiara. Kondisi inilah yang “ditangkap” oleh beberapa pengusaha-pendidikan (gue menyebutnya demikian), untuk melebarkan bisnis persekolahannya. Makin kinclong & eksklusif isi sekolahnya, maka kisaran harganya pun bisa ditebak :lol: Nggak usah jauh-jauh deh, contohnya di sekolah negeri : untuk bisa masuk di program “kelas-internasional”, uang pangkalnya saja bisa 10x lipat lebih mahal daripada “kelas-reguler”. Dan, biarpun program “kelas-internasional” tersebut kurikulumnya belum disertifikasi, tetap aja ada orangtua yang rela membayar demi anaknya bisa memperoleh segala fasilitas belajar terbaik yang ditawarkan oleh “kelas internasional” tersebut. See, itulah yang gue maksud. Terlihat seperti : tentu saja harus bayar mahal… ini kan kelasnya diajar secara dwibahasa, gurunya ngomong bahasa inggris, trus muridnya nanti belajar dengan kurikulum baru, trus ekskulnya lebih banyak, trus, trus… bla-bla-blaa. Pengusaha-sekolah membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendaftar baru… soal urusan kebijakan, kurikulum, penegakan disiplin dsb, itu urusan belakangan. Yang penting, modal mengalir dulu. Dan perlu diingat juga, salah satu bentuk “iklan” yang dipakai oleh pengusaha-pendidikan/persekolahan untuk menarik calon konsumen (orangtua & anak2nya) adalah promosi mulut-ke-mulut oleh para orang tua… Jadi yah kalo mau dilihat dari segi bisnis, orang tua merupakan target-market yang besar… apalagi mereka yang berasal dari kalangan menengah-keatas.

Anyway, balik istilah “bisa mengubah batu menjadi berlian” tadi. Keren yah, ngubah batu jadi berlian. Sebenarnya sih berliannya yang keren :lol: Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih untuk menghargai & mendapatkan keindahan berlian yang “sudah jadi” saja. Nggak mau repot. Nope, ini cuma pengandaian aja yah… bukan benar2 memilih untuk bikin berlian from the scratch. Banyak orang sering lupa, kalau berlian itu “matang” setelah melewati sekian banyak proses tempaan alam berusia jutaan tahun, dengan peraman panas bumi, diberi tekanan-tinggi, kena berbagai golakan, gerusan, asahan… Pada akhirnya, sering mereka lupa kalau proses-tempaan terus-menerus inilah yang justru membentuk keindahan berlian. Intinya, bikin berlian itu nggak instan.

Sama halnya dengan “membentuk” seorang anak/siswa, nggak bisa instan. Anak adalah manusia. Perlu waktu seumur-hidup, dari lahir-sampai-tua dengan segala speed-bumps of life, untuk membuat manusia se-kinclong berlian sekaligus tetap se-humble butir pasir di dasar laut. Gue pikir, tempaan-tempaan inilah yang terkadang suka dilupakan oleh para pengusaha-pendidikan, dimana mereka cenderung sebanyak-banyaknya meraup keuntungan dari banyaknya orangtua yang mau mendaftarkan siswanya masuk kesekolah mereka, namun akhirnya melupakan beberapa hal yang penting untuk diajarkan & dibiasakan kepada siswa, seperti kebiasaan disiplin, atau menumbuhkan rasa tepo-seliro & empati agar anak tumbuh menjadi manusia yang “peka” terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Banyak sekali sebenarnya hal-hal yang berperan penting dalam “pengembangan” karakter anak (siswa), in fact, ini bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga segenap pihak sekolah.

Satu cerita dari jaman SD dulu, gue pernah dapet detention saat jam istirahat sekolah. Oleh guru gue, gue nggak dibolehin langsung keluar jajan & main sama teman2, karena… gue kebanyakan ngobrol pas mengerjakan tugas latihan. Bisa ditebak, karena ngobrol, tugas gue nggak selesai. Namanya anak kecil, akal bulusnya adaaa aja; gue nego deh ke gurunya buat ngerjain latihannya di rumah. Tapi guru gue insist, jawaban atas nego gue adalah : TIDAK, tugas latihan bukanlah pekerjaan-rumah & harus diselesaikan di sekolah; maka gue harus membayar hutang “waktu untuk mengerjakan tugas latihan” dengan mengambil “waktu bermain” gue. Gue masih ingat kata-kata guru gue : “Kalau tadi Aini tidak ngobrol pas jam pelajaran, sekarang pasti tugasnya sudah selesai ‘kan ? Kan Ibu sudah peringatkan, ngobrol sama temannya nanti aja saat saat istirahat, sambil main-main. Sekarang Ibu mau tugasnya Aini selesai dulu, baru kemudian Aini boleh istirahat. “

Tugas yang gue tinggalkan itu nggak banyak, cuma beberapa soal tentang himpunan bilangan (masih inget, Bo’… :lol: ). Pun, guru gue mengucapkan kalimat tersebut nggak sambil marah-marah. Tapi entah kenapa… rasanya nyesek banget bagi gue, yang saat itu menganggap waktu istirahat adalah segala-galanya, harus menghabiskan setengah waktu istirahat di dalam kelas, kena detention. Mana kaki rasanya udah gatel pengen buru-buru melesat ke kantin sekolah & makan siomay, plus gue malu bukan kepalang karena teman-teman melihat gue “disetrap” dalam kelas oleh guru. Setelah kejadian detention itu, gue selalu berusaha untuk nggak menunda-nunda tugas lagi :lol: Itu baru contoh tempaan atau pelajaran-pelajaran hidup yang kecil. Semakin bertambah usia, semakin besar juga tingkat-kesulitan tempaannya :-P Hal-hal kayak gini-lah yang nggak diajarkan secara akademis di sekolah, tetapi ternyata turut membentuk karakter anak. Hal-hal yang kelihatannya remeh namun penting, seperti belajar menerima kata tidak, belajar disiplin & well-organized, atau harus menerima konsekuensi dari kesalahan yang diperbuat. Tetap ada pelajaran yang bisa dipetik sesudahnya, supaya setelah besar nanti  jadi nggak mengulangi kesalahan yang sama.… Selengkapnya

Categories: jendela-hati | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

Target Bulan Ini :

August 18th, 2009

1. Atur pola makan & asupan nutrisi
2. Perbanyak ibadah
3. Lebih banyak membaca
4. BE HAPPY !! :-)

Kawan-kawan, tolong bantu kami juga ya untuk saling mengingatkannya :-)

Oia, juga… dua hari lagi sudah masuk bulan Ramadhan, ya ? Hehe, nggak terasa aja… tahu-tahu sudah mau dua-Ramadhan aja kami lalui disini (insya Allah) :-) Anyhoo, kami berdua mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, mohon maaf lahir-batin atas kesalahan2 yang diperbuat. Mari kita bersiap-siap semua untuk mengejar segara rahmat & kebaikan Ramadhan… semoga Ramadhan kali ini bisa dijalankan dengan lebih baik daripada Ramadhan sebelumnya… Selengkapnya

Categories: Aini & Baim | Tags: , , | No Comments

Indonesia Bangettt !

August 16th, 2009

Sebagai perantau, selama disini gue menemukan bahwa ternyata ada banyak hal tentang Indonesia yang… terasa ngangenin. Serius, hal-hal kecil tentang Indonesia yang entah bagaimana, bikin kangen sama negara sendiri.  Seperti misalnya : biarpun transportasi umum disini itu lebih “manusiawi”, tapi entah kenapa, gue selalu kangen naik Kopaja & Bus TransJakarta. Biarpun Nasi Kandar disini rasanya “nendang”, tetapi Nasi Padang-lah yang terlezat & jadi JUARA di hatiku :lol: Biarpun disini ada mie instan rasa tomyam udang, tetapi tetaplah nggak afdol kalau nggak makan Indomie rasa Ayam-Bawang + telur ceplok, sawi rebus & irisan cabe rawit… :lol:

Pastinya… Selengkapnya

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

Sapi-Bali !

August 16th, 2009

sapibali_banner

Suka iga bakar ?? Nah… ada satu tempat makan baru lagi di Jakarta, yang menyajikan hidangan iga bakar nan lezat & masuk daftar “wajib-kunjung”

Sepulangnya dari Bogor kemarin, acara makan-makan lainnya sudah menanti :lol: Kali ini, giliran Ali & Agam mendaulat ibu-ayah & gue untuk makan-makan di sebuah resto bernama Sapi Bali“Enak, kak !!” seru Ali & Agam berpromosi, “Lu kudu coba iga sapi bakar-nya. Gue jamin, lu bakalan nagih, Kak !”

Wait; nama restonya =  Sapi Bali ? Nama Sapi… Selengkapnya

Categories: gilamakan | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Popotoan @ Capulaga & Kenanga

August 15th, 2009

Dalam setahun ini saat pulang & sowan ke Bogor, gue selalu membawa kamera dan laptop gue. Hihi, soalnya suka tiba-tiba pengen ngaso ke Kebun raya sambil hunting foto ;-) Tapi pas Juli kemarin pulang… gue mengurungkan niat untuk bawa kamera ke Bogor. Alasannya sederhana : repot bin berat, BO’ :lol: Soalnya harus bawa baju, toilettries, trus bawa laptop dan kamera pula… hwalah, repot. Berat pula. Kalau ke Bogornya berdua Baim sih boleh-boleh aja… karena segala baju & toilettries kami biasanya akan dijejalkan didalam ranselnya Baim, sementara gue cukup memanggul ransel berisi kamera & laptop (maklum, pasangan hippie-berransel :lol: ). Dan… sesi hunting-foto nggak akan menarik kalau nggak dilakukan bersama Baim.

Maka Juli kemarin, setelah menghabiskan beberapa hari di Jakarta, berangkatlah gue ke Bogor tanpa si kamera tercinta.Kameranya diistirahatkan di kamar gue di Jakarta. I think i’ll save the hunting session @ kebun raya buat nanti aja dijajal bersama Baim, sambil piknik berdua lagi ;-)

Sesampainya di Bogor, acara wisata kuliner pun dimulai… :lol:Selengkapnya

Categories: family room, gallery, gilamakan | Tags: , , , | 6 Comments