The Gift that Keep on Giving
November 18th, 2008
…Kamis pagi, 9 Oktober kemarin, sebuah sms masuk saat gue masih mengucek-ngucek mata. Baru bangun tidur.
Ternyata dari ayah. Isinya : “A’O, pagi ini bunga matahari yang ayah tanam berbunga…”
Membaca sms itu, semangat gue naik seperti batere HP yang sedang di-recharged. Hehehe, bukannya kenapa2, tapi ada cerita dibalik sms itu.
Juli lalu, saat gue sedang menyiapkan pernikahan, gue bingung menentukan jenis suvenir apa untuk ucapan terimakasih. Bingung karena gue gak mau jadinya membuang-buang budget hanya untuk suvenir yang kelihatannya aja lucu. Yah, lets face it… kebanyakan barang-barang suvenir pernikahan biasanya berakhir tidak terpakai, atau hanya dipakai sebentar. Barang-barang kecil tapi lama kelamaan menumpuk gak terpakai. Gue pengin ngasih sesuatu yang bisa lasting sekaligus ada “value”nya. Gak hanya sekedar benda. Tadinya, gue pengin ngasih suvenir berupa bungkusan kecil berisi kue kering atau cokelat, dengan harapan bisa langsung dimakan & nggak terbuang. Tetapi mengingat belum tentu semuanya awet sampai malam saat resepsi berlangsung (selain harganya ternyata selangit
), gue mengurungkan ide tsb.
Sampai 3 minggu sebelum acara pernikahan, gue masih belum memesan suvenir. Antara desperate, malas tapi masih penasaran mencari-cari, gue buka lagi contoh2 suvenir di majalah2 edisi pernikahan. Baca… baca… baca… eh, gue menemukan sebuah artikel ttg suvenir, berjudul “The Gift that Keep on Giving”. Disitu ada sebuah suvenir yang nggak biasa : sebuah pot terakota kecil berisi tanah yang didalamnya ditanami biji tanaman. Pot-nya kemudian dibungkus plastik transparan dan diberi direction ttg bagaimana merawat semaian tersebut sampai menjadi tanaman besar. Wah, benar2 hadiah yang terus memberi… memberi keindahan saat tanamannya tumbuh nanti Membaca artikel itu, gue yakin dalam hati kalau “Suvenir ini gue banget !”. Tapi… kalau ngasih dalam bentuk pot tentunya terlalu besar. Dan repot. Gak nyaman juga kalau sepanjang acara nikahan, tamunya kemana-mana bawa pot tanaman Gimana ya, agar bisa dikantongin…
AKhirnya gue memutuskan untuk memberikan biji tanamannya saja. Biji tanaman, karena kuat dalam kondisi apapun, dimana alam memang mendesain biji untuk berada dalam hibernate MODE-ON alias mengalami masa dormansi (puasa) sampai nanti dia menemukan tanah yg cocok, air & sinar matahari secukupnya untuk tumbuh. Rencana gue, biji tersebut gue taruh dalam sebuah amplop kertas kecil ukuran 7 x 11 cm. Di depan amplopnya akan ditulis ucapan terimakasih, di bagian belakangnya akan dibuat panduan untuk menanamnya. Lalu, jenis tanamannya. Gue ingin biji tanaman yang manakala tumbuh nanti menimbulkan rasa bahagia bagi mereka yang menanam & menantinya untuk tumbuh besar, berbunga. Berarti… itu harus tanaman yang berbunga. Nah, di tempat macam Indonesia yg kaya matahari sepanjang hari, kenapa gak gue kasih bunga matahari (Helianthus annuus) aja ? Lagipula, siapa yang gak senang melihat cerianya bunga kuning yang merekah menatap matahari, tumbuh di pekarangan mereka ? Anyway, bagi mereka yang percaya sama primbon, katanya menanam bunga matahari dapat membawa makna baik si bunga -yakni membawa kebahagiaan, kedamaian & keharmonisan rumah tangga- kepada si penanam
Gue mah percayanya kalau lihat bunga mekar bersemi itu bikin hati senang, happy dan adem-tentrem.
Biji bunga mataharinya gue pesan dari sebuah nursery di Malang. Infonya dapat dari teman sekantor ayah yang pernah memesan biji bunga tsb. Pas gue telepon nursery-nya & menanyakan viabilitasnya berapa %, pak Chandra si pemilik nursery menjawab 80 %. Baguslah . Untuk amplopnya, gue pesan di tempat yang sama dengan tempat gue bikin undangan pernikahan. Amplop kertas simpel bergambar hiasan bunga matahari bergaya art-noveau; di bagian belakangnya bergambar petunjuk menanam bunga matahari… ada simbol diberi air sedikit & banyak paparan cahaya matahari. Semua gambar gue buat sendiri. Gue masukkan pula proverb Cina “one generation plants the tree, another gets its shade” sebagai pesan-nya. Gue harap mereka yang mendapat suvenir ini terdorong untuk menanam biji bunga yang diberikan… Hadiah yang gak hanya diberikan sebagai hadiah, namun juga disemai untuk terus memberikan hadiah keindahan kpd penyemainya & sukur-sukur, kpd anak-cucu mereka juga.
(Tapi…. gue lupa nulis di petunjuknya kalau bibit bunga matahari ini harus ditanam di tanah yang berserasah, banyak kena sinar matahari, gembur, lembab, hangat & bijinya ditanam sedalam kira2 10-15 3-4 cm ??? Hehe, agak kebanyakan buat ditulis di amplop seukuran 6×8 cm sih, tapi yasudah-lah…)
Paket bibit bunga matahari dari Malang tiba di rumah gue 2 minggu sebelum hari pernikahan gue, dan amplopnya gue ambil 2 hari kemudian. Saat biji bunganya datang, ayah & gue langsung coba menanam 10 biji untuk melihat berapa hari kecambahnya akan keluar. 2 hari sebelum hari pernikahan gue, sudah ada 8 kecambah tumbuh setinggi 10 cm di pot tempat gue menanam si biji bunga.
Btw, U know what ? Akhirnya gue mengerjakan suvenir nikahan secara ekspress. Seminggu aja, coba ! Lumayan juga sih… pas malam-malam gue gak bisa bobo, gue ngerjain suvenir itu sendirian di kamar (sekaligus kontemplasi & menjauhi stress, hahaha). Saat tante2 gue datang bareng 2 sepupu cewek gue, Tita & Arin, gue minta bantuan mereka semua untuk mengemas si biji bunga dalam amplop. Dari 3 kg biji bunga yang dipesan, semuanya habis terkemas ke dalam 650 amplop Seusai acara nikahan, tadinya gue mau bawa satu amplop biji untuk ditanam di apartemen di Penang… tapi ternyata suvenirnya abis, hiks.
Di Oktober kemarin, terhitung dua bulan sejak Agustus, gue banyak menerima kabar dari saudara & teman-teman gue, bercerita tentang suvenir biji bunga yang mereka tanam. Tante Ellie menanam biji bunga-nya di beranda apartemen & mengabari gue dengan sms : “Hi pengantin baru…masih honeymoon-mode yaaa? Hehe, mau ngabarin niy kalau biji bunga mataharinya dah numbuh
”. Lewat YM, sahabat gue sesama guru Haiskup, Nining, bercerita kalau dia menanam biji bunga matahari bersama 2 anak cowoknya, “mereka seneng gitu, Ni…nanem biji bunganya di halaman”. Adit, temannya Baim, juga mengabari hal yang sama di guest-book MP; begitu pula dengan Amalia, sepupu gue & Baim, yang mengabari lewat MP
Ditambah lagi sms ayah yang mengabari kalau bunga matahari yang ditanam bareng gue udah berbunga, meski belum besar-besar banget. Gue pengen banget ngeliat bunga-nya… Pas, dua bulan waktu yang dibutuhkan benih bunga mataharinya untuk sampai berbunga, hehe. Pastinya agar berbunga, butuh siraman air yang secukupnya saja & banyak limpahan sinar matahari.
Kocaknya, karena bentuk si biji bunga mirip dengan penganan kuaci, beberapa orang sempat mengira itu biji kuaci untuk dimakan !? Hehe, bisa juga sih, karena kuaci di Indonesia kebanyakan berasal dari biji bunga matahari (kuaci yg warna bijinya garis2 item), selain kuaci biji semangka yang putih-putih itu. Tante Tina (yang waktu itu sedang hamil) iseng memakan beberapa biji saat mengemas biji2an itu… katanya kuaci itu cemilan yg bagus buat orang hamil ![]()
Om-nya Baim, ami Ajid, juga iseng memakan biji bunganya ; ini cerita dari Mutia, adiknya Baim. Katanya, setelah pesta resepsi, anggota2 keluarga lainnya berspekulasi tentang “Apakah suvenir biji bunga matahari ini untuk ditanam atau dimakan ?”.
Sebagian anggota keluarga bilang, “Ini mah buat ditanam…lihat aja nih di amplopnya ada gambarnya, itu ditanam trus disiram…!”; sementara yang lainnya bilang, “Ah, nggak… nih lihat, bentuknya aja kayak kuaci. Jadi buat dimakan, atuh !”. Untuk mengakhiri polemik tersebut
ami Ajid akhirnya memutuskan untuk mengambil sebiji & memakannya. Sesaat sebelum memakan biji bunga, ami Ajid terdiam, lalu menatap istrinya & berpesan :
“…Mamah, jagain anak-anak yah…”
Kontan semua anggota keluarga yg tadi berdebat, jadi ketawa ngakak. Aya-aya wae ![]()
Anyway, gue senang banget mendengar cerita-cerita bernada happy & kocak dari saudara & teman-teman saat mereka menanam biji bunga mataharinya (ataupun mencoba untuk memakannya, hehe). Happy-nya gak hanya setelah bunganya keluar & bisa dinikmati. Mungkin sekarang-sekarang ini saat bunganya belum muncul, perasaan happy-nya datang either saat mengamati kecambah-kecambah yang akhirnya bermunculan & tumbuh, atau saat menanam bunga bersama orang tercinta. Gue senang aja, menyadari kalau suvenir yang diberikan kemarin jauh dari sekedar “a gift” semata…but a Gift that will keep on giving, as it grows. Insya Allah ![]()
Related posts:
Categories: Aini & Baim, family room, jendela-hati, the door : our wedding | Tags: pernikahan, seeds, souvenir, sunflower, suvenir, wedding




[...] luar negeri. Tema suvenirnya : The Gift that Keep on Giving. Lebih jelasnya, silakan baca ceritanya disini Pesannya jauh… ke kota Malang Tetapi saat diuji, alhamdulillah viabilitas-nya bagus, [...]
Kereeeeen…
boleh minta nomor telpon yang jual tanaman di Malang?
boleh… nomor telpon-nya udah ku-email ya Tyo
wwahhh…gw jg kepikiran ky gt sis..gw rencana mo merit jg nih..minta no teleponnya doooongggg….
tx y
Sippp! no.teleponnya udah ku-email ya Mute
Wah, congratulations ! bahagianya yang lagi nyiap2in pernikahan… semoga semua2nya berlangsung lancar yaa 
wah, jadi terinspirasi. aku boleh minta nomor kontak nursery yang di malang itu? terus sekarang biji bunga mataharinya sudah pada berbunga?
@Imelda : Boleh, nomor kontak & e-mail nursery-nya udah ku- e-mail ya Imelda

Sekarang biji bunga mataharinya sudah berbunga; pertama kali ditanam agustus’08, seminggu kemudian udah keluar kecambahnya jd benih; pas oktober’08 keluar bunga pertamanya
kreatif banget mbak ide’ souvenir’a….. beda banget!!! Insya Allah kalo alu butuh di jiplak ya mbak ide’a.. kayak’a di Manado sini blom pernah ada yang ngasih souvenir kayak gini deh….
hehe, makasih Afni… Sippp, silakan, kan ntar bisa jadi pelopor pemberi suvenir ramah-lingkungan disana
bisa minta kontak yg jual bibit bunga matahari?
makasih ya..
OK, Mary… infonya udh kukirim ke e-mail ya
asslkm….mba aini mau tanya donk.nursery souvenir bibit bunga matahari nya beli di mana?bisa minta kontak nya ngga?komplit sama harga nya ya mba.trus mba aini waktu ngasih souvenir nya berapa bibit yg d kasih dalam 1 amplop?mo ijin dulu untuk nyontek ide nya boleh ngga?itung2 untuk menolong bumi kita ini.thx ya..ditunggu balasan nya
keyennnnn…. aku juga mau dunk alamat yang jual bijinya. selain bunga matahari, bunga apa lagi?? satu amplop diisi berapa biji???kirim ke email ku yach…
bisa minta detail contact person yg jual bibit bunga matahari as a souvenir?
thank you
mba aini… dari dulu saya suka mikir buat kasih pot kecil sebagai sovenir nikah… eh baca blog ini idenya bagus bgt… mo nyontek ya mba…minta alamat kontak penjualnya donk… itu harganya berapa 1 kg?? tiap amplop diisi berapa?? makasih byk ya…
Mbak, bleh minta kontak dagang bibit bunga mataharinya ndak?
Makasi sebelumnya mbak
saya jg tertarik dengan bibit bunga mataharinya, boleh minta nomer kontak nursery di malang itu?
thanks ya
Dear Aini, aku juga mw kntak nursery’nya ya..tlg kirim ke emailku sklian price list’nya juga
thx
Dear Mbak Aini,
aku suka sekali dengan artikel tentang weddingnya mbak..memberikan banyak inspirasi dan masukan untuk aku yang saat ini lagi kebingungan menyiapkan weddingku.
aku setuju banget dengan cara mbak Aini mengajarkan orang2 untuk menanam tanaman. aku ingin seperti mbak, tapi kebingunan dimana membeli bibit tsb. bisa minta kontak personnya ga mbak penjual yang di malang itu?
thx banget ya mbak.. GO GREEN! =)
Mba kereeen banget de ceritanya n souvenirnya berguna banget…
Boleh ga saya minta kontak nursery nya yg jual bibit bunga itu?
Thx before ya…
heiiiy Aini,
lagi dalam kondisi yang persis sama.. skrang 1 bln sblm hari H dan berkeras tetep pengen kasih tanaman *go green*. boleh dishare CP dan no telp nursery-nya ya.. trs mungkin mau ngobrol2 via email.. ditunggu yaaa. thanks alot
mbak aini…aku baru baca nih webnya…seruuuu!!!beberapa idenya soal dekor, foto2, undangan…aku contek dikit ya mbak…numpang ijin..hehehe…mbak aku pgn ngobrol2 deh sama mbak soal nikahan mbak..kali2 ada yg bisa kutanyain. lewat ym boleh, email boleh, telp atau sms boleh, ketemu juga boleh…:D kasi nomer ato ymnya ke aku aja ya…thx a lot ya mbak…
oiya…salam kenal..hehehehe ^^
Vida
mbak, saya bisa minta juga untuk kontaknya?
tengkyuh
mbaaa, bisa minta kontak nurserynya juga?
hi mb aini,,bs minta cp nya bibit tanaman di malang?thx
mba, bisa minta kontak nurserynya
sy selalu kagum dengan org2 kreatif seperti mba ini….apa2 yg diceritakan mengalir dgn lugas dan bermanfaat…coba saya nemu web ini dr dulu yah…..
mba boleh minta no.telpon sama alamat nursery yg di Malang? makasih banyak
mba…saya salut dengan apa yang dianggap kecil ternyata mengandung inti hidup yang sangat besar….menyejukan…oy saya bisa minta contact person bibitnya??? Thx
gue punya stok kuaci biji semangka, ada yang mau? e-mail ke kartikamaharani2011@gmail.com makasih